Alasan Dirut PT Garam Hanya Serap Garam Rakyat 30 Ribu Ton

Rabu 17 Juli 2019 21:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 17 320 2080290 alasan-dirut-pt-garam-hanya-serap-garam-rakyat-30-ribu-ton-5zkLCqBFQQ.jpg Garam (Reuters)

SURABAYA - PT Garam (Persero) tahun 2019 diperkirakan hanya akan menyerap garam rakyat sebanyak 30 ribu ton, karena stok garam produksi 2018 masih belum seluruhnya terserap.

Direktur Utama PT Garam, Budi Budi Sasongko di Surabaya, Rabu mengatakan, garam yang diserap pada 2018 lalu sebanyak 120 ribu masih idle stock, sebenarnya pada tahun ini perusahaan merencanakan untuk menyerap garam rakyat sebanyak 135 ribu ton.

 Baca juga: Tak Ada Masalah di Tata Niaga, Harga Garam tetap Anjlok

"Untuk menyerap garam rakyat itu membutuhkan dana yang cukup besar, sedangkan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penyerapan terbatas," katanya melansir laman antaranews, Rabu (17/7/2019).

Ia mengatakan, penjualan dari garam itu sebagai "revolving fund" atau dana bergulir untuk melakukan penyerapan kembali pada tahun berikutnya, namun pihaknya masih kesulitan menjual karena harga garam terpaut jauh dengan harga jual rata-rata garam saat ini.

 Baca juga: Menteri Susi Marah, Harga Garam Anjlok karena Terlalu Banyak Impor dan Bocor

"Dulu kami menyerap garam dengan harga Rp1.400 per kg-1.500 per kg, namun sekarang turun sekitar Rp1.000 per kg. Dan kami akan serap sesuai dengan sisa dana dari PMN (Penyertaan Modal Negara) yang didapat pada 2015 lalu,'' tuturnya.

Saat ini, kata dia, dana PMN yang dimiliki sebanyak Rp30 miliar atau dengan estimasi harga garam Rp1.000 per kg, hal itu hanya cukup untuk menyerap sebanyak 30 ribu ton garam.

Ia mengatakan, secara PSO PT Garam sudah persero dan kalau dana habis tidak ada kewajiban untuk menyerap, sebab tidak hanya PT Garam yang menyerap garam rakyat, sejumlah industri besar juga melakukan penyerapan, seperti PT Unichem Candi Indonesia dan PT Susanti Megah yang masing-masing sekitar 40 ribu ton.

''Pertanyaannya, yang diserap industri adalah garam K1 atau kualitas pertama. Karena kami berharap dengan menyerap K1 proses olahan bisa sesuai dengan kualitas yang diinginkan,'' ujarnya.

Karena itu, kata dia, peningkatan kualitas produksi garam saat ini harus terus dilakukan, meski setiap industri membutuhkan garam dengan kualitas berbeda-beda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini