nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Supaya Tak Tertipu, Ini Ciri-Ciri Pinjaman Online Ilegal

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 15:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 19 320 2081027 supaya-tak-tertipu-ini-ciri-ciri-pinjaman-online-ilegal-fOy3ONY1Wi.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Dari 1.082 pinjaman fintech (financial technology) Peer to Peer (P2P) Lending, baru 113 fintech yang menyandang status resmi dan diawasi langsung Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dengan masih banyak aplikasi pinjaman online secara ilegal, masyarakat diimbau menjadi konsumen atau nasabah yang pintar. Salah satu fintech yang sudah resmi terdaftar di OJK, Akseleran berbagi tips supaya masyarakat bisa mengetahui mana fintech legal dan tidak.

 Baca Juga: Pinjaman Online Meningkat 100,72%, Nilainya Capai Rp41 Triliun

Senior Vice President Corporate Communication Akseleran Rimba Laut mengatakan, masyarakat harus tahu, sebenarnya mendapat pinjaman online yang resmi ada syarat yang ketat dan tidak mudah. Maksudnya, tidak sekadar mendapat SMS 'Selamat Anda dipilih untuk mendapat pinjaman. Silahkan klik di sini'.

"Kalau masyarakat tahu, fintech ilegal dengan kita mengklik link itu pasti dia mencuri data pelanggan dengan cara download aplikasi A. Nanti ada pilih setuju dengan syarat ketentuan, otomatis nomer HP di phone kita yang mendowload terambil semua. Kalau tidak setuju tidak bisa proses pinjaman. Nah itulah, pintarnya fintech ilegal," ujarnya kepada Okezone.

 Baca Juga: OJK: 46 Fintech Jalani Uji Keandalan

Sekarang, kata Rimba, masyarakat harus benar-benar jadi konsumen yang pintar dengan memeriksa fintech lebih dulu. Untuk diketahui, seluruh fintech resmi, mereka harus jadi member Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia lebih dulu. Kemudian fintech baru proses dokumen supaya dapat status terdaftar.

"Memang perlu masyarakat tahu kunci yang pertama itu Fintech terdaftar di OJK, proses untuk terdaftar di OJK itu panjang dan sulit. Lalu surat itu tidak bisa dipalsukan karena setiap aplikasi dan website ada logo OJK. Itu logo terdaftar dan diawasi oleh OJK dan itu diberikan dari OJK kepada penyelenggara yang sudah dapat status diawasi OJK. Jadi tidak bisa asal ambil dari Google," ujarnya.

Dia menerangkan, untuk dapat status terdaftar dan diaswasi OJK semua berkas berliku dan panjang, termasuk siapa yang mendirikan fintech. Lalu latar belakang pendiri, manajemen dengan riwayat pendidikan. Kemudian KTP, tempat tinggal, akta pendirian perusahaan, harus berbadan hukum, server teknologi itu Indonesia atau luar negeri.

"Semua pusat data harus di Indonesia. Kemarin digagalin OJK ternyata banyak yang statusnya di China, Beijing, Rusia, Filipina. Jadi semua server harus di Indonesia dan di cek OJK," ujarnya.

Kemudian yang perlu masyarakat tahu adalah setiap fintech ilegal biasanya memberikan bunga harian sebesar 1%-2%. Besaran bunga tersebut biasanya tidak transparan diinformasikan pada peminjam.

"Bisa dibayangin pinjam Rp1 juta dengan bunga 1,5% per hari dikali 30 hari, belum bunga jika terlambat bayar. Itu yang memberatkan," tuturnya.

Nah, katanya, saat ini seluruh fintech terdaftar di OJK dan member di AFPI, bunga harian paling tinggi 0,8% per hari. Kemudian ada kantor, sudah ada badan hukum, web site, aplikasi dengab license ISO 27001.

"Wajib karena ada hubungan dengan Kominfo. Semua itu prosesnya sampai dapat status resmi terdaftar dan diawasi OJK," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini