Kemarau Panjang, Menko Darmin Khawatir Cabai dan Bawang Sumbang Inflasi

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 01 Agustus 2019 20:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 01 20 2086585 kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi-cS9XtND7Dm.jpeg Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ada sejumlah bahan pangan yang perlu diperhatikan pasokannya dalam mengantisipasi kemarau panjang. Pasalnya, kemarau yang berkepanjangan dapat memengaruhi tingkat inflasi secara signifikan.

Kemarau akan menyebabkan kekeringan sehingga berimbas pada tanaman pangan yang tidak berproduksi dengan baik. Pada akhirnya akan mempengaruhi besaran pasokan yang kemungkinan belum bisa memenuhi permintaan.

 Baca Juga: Cabai hingga Biaya Sekolah Kerek Inflasi Juli Sebesar 0,31%

Darmin menyatakan, komoditas pangan yang perlu diperhatikan adalah jenis cabai dan bawang. Menurutnya, Indonesia belum memiliki langkah memenuhi pasokan kedua bahan pangan ini secara berkepanjangan. Seperti diketahui, untuk memenuhi kebutuhun bawang putih di Tanah Air memang masih perlu impor.

"Sebenarnya yang mungkin harus diperhatikan lebih adalah bumbu-bumbuan seperti cabai dan bawang. Karena kita belum menemukan solusi yang sifatnya agak permanen," ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

 Baca Juga: BPS: Inflasi Juli 2019 Sebesar 0,31%

Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatatkan, bahan makanan menjadi penyumbang inflasi pada Juli 2019 sebesar 0,80% dengan andil 0,43%. Komoditas utama pendorong inflasi adalah cabai merah sebesar 0,20%, cabai rawit 0,06%, serta cabai hijau 0,01%.

Sebaliknya, komoditas bawang putih dan bawang merah tercatat masih menyumbang deflasi masing-masing sebesar 0,04% dan 0,02% di Juli 2019.

Umumnya harga cabai melonjak di musim hujan karena pasokan bekurang akibat cabai mudah membusuk. Meski demikian, Darmin menilai naiknya harga cabai saat ini di tengah musim kemarau merupakan hal yang mungkin terjadi.

Pasalnya, bila penanaman mulai dilakukan jelang musim kemarau tentu hasil panen juga tak maksimal. Sedangkan saat ini kemarau berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau sudah tumbuh di bulan April atau Mei itu enggak apa-apa menemukan kemarau. Tapi kalau baru tanam pas baru kemarau nah itu (hasilnya tidak maksimal), kecuali kalau ada irigasinya," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Darmin, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengetahui pasokan pangan, khususnya cabai dan bawang guna mengantisipasi kemaran panjang.

"Ini perlu di cek dulu pasokannya seperti apa ke Kementan, itu dalam seminggu ini akan dilakukan sehingga baru mulai dihitung seperti apa (kecukupan pasokannya)," kata dia.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto juga menyebutkan, kemarau panjang perlu menjadi perhatian pemerintah agar tidak mendorong laju inflasi dengan tinggi.

"Tahun ini memang agak beda karena ada perkiraan kemarau berkepanjangan sampai Oktober 2019, ini perlu diperhatikan. Dampaknya ke bahan makanan akan lebih baik kalau ini bisa diantisipasi," katanya di Gedung BPS.

Suhariyanto sendiri meyakini untuk pasokan beras memadai dalam menghadapi kemarau panjang. Hal itu berdasarkan rapat koordinasi yang diikutinya bersama Darmin Nasution, Kementan dan Perum Bulog.

"Kalau cadangan beras di Bulog yakin pasokannya memadai, karena kita sudah beberapa kali rapat di Kemenko Perekonomian," kata dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini