nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berinvestasi Tidak Harus dengan Dana Besar

Sabtu 03 Agustus 2019 09:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 02 278 2086776 berinvestasi-tidak-harus-dengan-dana-besar-BkskyFHlXF.jpg Bursa Efek Indonesia. Foto: Okezone

JAKARTA - Sejak 12 November 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan program “Yuk Nabung Saham.” Tujuannya memperluas basis pemodal lokal, dengan memberikan peluang lebih luas pada investor ritel untuk menangkap peluang meraih keuntungan dari berinvestasi saham di bursa.

Sesuai dengan prinsip menabung pada umumnya, tidak harus orang yang punya dana besar yang bisa menabung. Prinsip yang sama juga berlaku bagi yang berminat menabung dengan berinvestasi pada portofolio saham.

Era investasi saham yang harus harus dengan modal besar sudah berlalu. Jauh sebelum program “Yuk Nabung Saham” digaungkan, jika ingin berinvestasi saham, seorang calon investor harus menyiapkan dana antara Rp10 juta hingga Rp25 juta.

Dana itu diperlukan untuk membuka rekening efek di perusahaan sekuritas, sekaligus menjadi dana jaminan. Untuk membeli saham perusahaan A, seorang investor harus merogoh kocek lagi, dengan besaran yang disesuaikan dengan harga per saham dari satu lot yang jumlahnya 500 lembar kala itu.

Baca Juga: Agustus, BEI Akan Rilis 2 Indeks Baru

Kini, dengan Rp100.000 per saham seorang calon investor sudah bisa membeli saham di cabang perusahaan sekuritas atau Galeri Investasi di kampus-kampus. Satu lot saham pun sudah bisa disesuaikan dengan hanya sebanyak 100 lembar. Calon investor pun bisa membuka rekening dengan cara online dengan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh hampir semua perusahaan efek dengan waktu yang relative singkat.

Jika ingin membeli reksa dana, seorang investor bahkan sudah bisa lewat penawaran marlet place. Nilainya bahkan bahkan bisa dengan kelipatan Rp10 ribu. Bisa juga dengan membeli melalui bank dengan kelipatan Rp100 ribu. Lewat penyederhanaan ini, seorang bisa dengan mudah menjadi investor, dengan menyisihkan dana secara rutin tiap bulan, layaknya menabung lewat bank.

IHSG

Karena prinsip itu pula, tidak ada alasan untuk menunda investasi dengan alasan belum punya uang yang cukup. Selain sekuritas yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi para investor pemula untuk berinvestasi saham, termasuk kemudahan membuka rekening saham, dengan rekening dana yang makin terjangkau.

Tak hanya itu, manajer investasi pun makin memudahkan peminat investasi reksa dana untuk berinvestasi, entah melalui pembelian secara online lewat market place, maupun membeli secara rutin lewat bank, layaknya menabung.

Baca Juga: Pentingnya Memahami Risiko dalam Berinvestasi

Seiring dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, tidak ada alasan untuk menunda berinvetasi dengan alasan dana minim. Dengan investasi, seseorang bisa mempertahankan bahkan meningkatkan gaya hidup pada masa mendatang. Sebab, dengan investasi daya beli seseorang tidak berkurang di masa depan.

Apabila seseorang merasa penghasilannya pas-pasan untuk menutupi biaya hidup saat ini, coba lihatlah kembali pengeluaran yang terjadi sepanjang tahun, kemudian lakukan efisiensi agar minimal 10% dari penghasilan bisa dialokasikan untuk dana investasi.

Efisiensi dilakukan dengan merevisi rencana pengeluaran yang tidak urgen. Misalnya, mengurangi rutinitas jalan-jalan pada akhir pekan di pusat perbelanjaan atau mengurangi kebiasaan jajan minuman kekinian yang jika dicermati, cukup menguras kantong bulanan. Bagi yang sudah berkeluarga, banyak biaya bulanan yang tidak penting bisa dikurangi lalu disisihkan untuk investasi.

Setelah merencanakan penghematan ditetapkan, pola pikir harus diubah. Caranya dengan menganggap bahwa penghasilan Anda hanya sebesar 90% dari total dana yang diterima setiap bulan. Akan lebih bagus jika dana yang disisihkan bisa lebih dari 10% penghasilan per bulan. Dengan demikian. Rutinitas pengeluaran adalah sebesar maksimal 90 persen, dan sisa 10% merupakan nilai yang harus dibayar untuk membiayai kenikmatan pada masa depan.

Setelah melakukan penghematan, dan memutuskan berinvestasi, lakukan secara berkala baik membeli saham atau reksa dana. Bisa juga dengan membeli kedua produk sekaligus sehingga ada penyebaran risiko. Ingat, investasi harus dilakukan dalam jangka panjang, lebih bijak disesuaikan dengan tujuan keuangan, misalnya menyekolahkan anak 5 tahun mendatang, atau biaya renovasi rumah 10 tahun mendatang, setelah kredit rumah tuntas.

Filosofi investasi, “Jangan menyimpan telur di dalam satu keranjang” harus selalu menjadi pegangan investor. Dana investasi yang dialokasikan investor perlu dievaluasi secara berkala, misalnya tiga bulan sekali. Dan investor harus menetapkan batasan alokasi untuk tiap jenis produk investasi, sesuai profil risiko masing-masing.

(TIM BEI)

1
2

Berita Terkait

BEI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini