nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini yang Terjadi jika Mati Listrik di Australia

Kamis 08 Agustus 2019 22:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 08 320 2089579 ini-yang-terjadi-jika-mati-listrik-di-australia-vlpLy2mrEi.jpg Mati Lampu (Reuters)

AUSTRALIA - Peristiwa mati listrik yang melanda setengah Pulau Jawa pekan lalu, menyebabkan perusahaan listrik negara (PT PLN) menjadi bulan-bulanan. Apalagi dampaknya mengakibatkan kerugian financial.

Bagaimana kalau hal itu terjadi di Australia?

 Baca juga: Mati Listrik Serentak di Sebagian Jawa Bukan Kategori Krisis Energi

Mati listrik atau blackout terakhir kali terjadi di Australia Selatan pada tahun 2016 silam. Saat itu, terjadi cuaca ekstrim yang menyebabkan kerusakan besar pada infrastuktur listrik, termasuk merobohkan jalur transmisi.

 Sutet Roboh

Mengutip ABC, Jakarta, Kamis (8/8/2019), menurut Australian Energy Regulator (AER), di black out di 2016 diikuti oleh hilangnya pasokan dari pembangkit listrik tenaga bayu sehingga memicu terjadinya blackout. Sedikitnya 850 ribu warga terdampak pemadaman listrik.

 Baca juga: Imbas Pemadaman Listrik, Ada Masyarakat Rugi Rp9 Juta karena Ikan Koi Mati

Kejadian ini sudah tiga tahun berlalu, tapi konsekuensinya masih berlanjut sampai saat ini.

AER pada hari Rabu 7 Agustus 2019 menyatakan akan menyeret empat operator pembangkit listrik tenaga bayu ke pengadilan federal. Keempat operator ini merupakan anak perusahaan dari AGL, Neoen, Pacific Hydro dan Tilt Renewables.

AER menuduh mereka tidak mematuhi persyaratan kinerja dalam menghadapi gangguan besar, serta melanggar Peraturan Listrik Nasional.

 Baca juga: Mati Listrik Serentak Mulai Diinvestigasi

"AER ingin mengirimkan sinyal kuat ke semua perusahaan energi mengenai pentingnya kepatuhan pada standar kinerja demi keamanan dan keandalan sistem," kata Ketua AER Paula Conboy.

"Kegagalan mereka itu diduga berkontribusi pada event padamnya sistem, artinya Operator Pasar Energi Australia (AEMO) tidak memperoleh informasi lengkap saat mengatasi kegagalan sistem di Australia Selatan pada September 2016," tegas Conboy lagi.

"Memberikan informasi tepat waktu dan akurat kepada AEMO sangat penting untuk memastikan keamanan sistem kelistrikan serta keefektifan pasar energi eceran," katanya.

Dalam pernyataannya kepada Bursa Efek Australia, perusahaan pemasok energi ternama AGL menilai tuduhan terhadap mereka bersifat sangat teknis.

AGL menyatakan tidak menerima kesimpulan AER dan siap untuk membela diri di pengadilan.

AGL mengakui dampak pemadaman listrik terhadap masyarakat dan bisnis, namun menyalahkan faktor bencana sebagai penyebabnya.

Pemadaman listrik bervariasi mulai dari yang hanya beberapa jam di sebagian daerah hingga beberapa hari di daerah lainnya. Perkiraan kerugian mencapai USD367 juta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini