nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Masih Tinggi, Indonesia Darurat Pabrik Bahan Baku Obat?

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 22:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 08 320 2114492 impor-masih-tinggi-indonesia-darurat-pabrik-bahan-baku-obat-NKPr7JCt7U.jpg Ilustrasi Obat-obatan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan bahan baku untuk obat masih menjadi salah satu penyumbang impor tertinggi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, impor bahan baku keshatan berada di angka sekitar 90%.

Direktur Kesehatan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengatakan, sebagian besar bahan baku obat masih merupakan produk impor. Oleh karena itu, dirinya berharap ada pabrik bahan baku obat yamg ada di Indonesia.

Baca Juga: Redam Impor Tekstil, Pemerintah Bakal Revisi Aturan

“Kita berharap bahan baku obat dapat diproduksi di Indonesia. Selain untuk penyediaan bahan baku yang lebih efisien, juga untuk mendukung pengembangan industri farmasi dalam negeri,” ujarnya dalam sebuah diskusi dk Jakarta, Selasa (10/8/2019).

Menurut Pungkas, ketersedian produk farmasi, terutama obat dan vaksin, yang cukup di dalam negeri sangat diharapkan untuk menurunkan pengeluaran pemerintah. Ini juga sangat berpengaruh terhadap harga jual dari obat itu sendiri.

Obat

“Selama ini, kita masih belum mampu membiayai keseluruhan kebutuhan obat dan vaksin di dalam negeri. Oleh karena itu kita masih perlu mendatangkannya dari luar negeri. Dalam kondisi demikian, efisiensi harga menjadi pertimbangan yang sangat penting,” jelasnya.

Apalagi menurut Pungkas kebutuhan akan vaksi, terus meningkat Terutama dengan adanya berbagai jenis penyakit yang sangat efektif dicegah oleh vaksin.

Baca Juga: Impor RI Capai USD14,2 Miliar, Turun 15%

“Sebagai contoh, untuk menekan angka kematian bayi kita perlu pencegahan pneumonia dan diare. Dan ini vaksin yang belum menjadi bagian dari pengembangan vaksin ke depan, jika kita ingin menekan angka kematian bayi secara serius,” jelasnya.

Sementara itu, Ekonomi kesehatan dari Universitas Padjadjaran Auliya Suwantika menjelaskan Indonesia menempati peringkat ketujuh, negara dengan angka kematian bayi berusia di bawah lima tahun akibat pneumonia. Data memperlihatkan rata-rata kematian akibat penyakit pneumonia terhadap anak di bawah 5 tahun mencapai 25.000 orang per tahunnya. Kematian akibat penyakit pneumonia menyumbang 17% dari total kematian anak di bawah lima tahun.

“Fakta ini harus diperhatikan, lantaran Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kematian bayi akibat pneumonia, yang tidak memasukkan vaksin pneumonia sebagai wajib imunisasi dasar,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Kementerian Kesehatan Sadiah mengatakan pemerintah sedang mengupayakan agar vaksin pneumonia dapat masuk dalam paket imunisasi dasar. Sehingga vaksin tersebut dapat diakses masyarakat dengan harga yang terjangkau.

“Kita sedang bahas langkah itu dalam sejumlah pertemuan lintas kementerian dan lembaga. Sebab upaya tersebut membutuhkan regulasi yang pasti, yang bukan hanya dari Kemenkes saja, namun dari kementerian lain,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini