nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perkenalkan, Ir Dina si Pembuat Jembatan Lengkung Terpanjang di Dunia

Rani Hardjanti, Jurnalis · Selasa 26 November 2019 13:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 26 320 2134596 perkenalkan-ir-dina-si-pembuat-jembatan-lengkung-terpanjang-di-dunia-VAcgnr0hpw.jpg Dina Pembuat Jembatan Lengkung (Foto: Facebook Menko Luhut)

JAKARTA - Indonesia boleh berbangga hati. Pasalnya, jembatan lengkung terpanjang di dunia ada di Jakarta. Tidak hanya itu, hal lain yang membuat bangga adalah jembatan lengkung itu merupakan karya anak bangsa tanpa keterlibatan pihak asing.

Dia adalah Arvila Delitriana atau akrab disapa Ir Dina. Wanita jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), bersama Adhi Karya, ini mampu merancang jembatan lengkung sepanjang 148 meter untuk proyek Light Rail Transit atau Laju Raya Terpadu (LRT) Jabodebek di Jalan Gatot Soebroto dan JL HR Rasuna Said, Jakarta.

Baca Juga: Ikut Ngecor Jalur LRT Jabodebek, Erick Thohir: Semoga Selesai Tepat Waktu

Banyak orang yang berdecak kagum melihat jembatan lengkung karya Ir Dina. Tidak terkecuali Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, bahkan Presiden Joko Widodo.

Pada saat persemian, jembatan lengkung bentang panjang LTR ini langsung mencatatkan dua rekor sekaligus dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pertama adalah rekor jembatan kereta box beton lengkung dengan bentang terpanjang dan radius terkecil di Indonesia. Kedua, mencatatkan rekor lainnya dengan pengujian axial statistic loading test pada pondasi border pile dengan beban terbesar di Indonesia.

Baca Juga: Mengintip Longspan LRT Jabodebek Terpanjang di Dunia

Ir Dina tidak berhenti di situ. Kabarnya, wanita berkerudung tersebut tengah membangun jembatan lengkung di Teluk Balikpapan yang akan menghubungkan kota Balikpapan dengan wilayah Ibu Kota Negara (IKN) baru. Tidak tanggung-tanggung, kali ini bentang tanpa tiang yang dibuatnya hampir 500 meter.

 LRT

Berikut ini selengkapnya seperti dikutip dari akun Facebook milik Menko Luhut, Selasa (26/11/2019).

Sampai hari ini setiap kali saya melintas perempatan Jalan Gatot Soebroto dan Jalan HR Rasuna Said yang tidak pernah tidak macet, saya selalu mendongakkan kepala ke arah jembatan lengkung LRT Jabodetabek yang sudah bersambung.

 

Dan setiap kali pula muncul rasa bangga yang tidak habis-habisnya. Ya, siapa yang tidak bangga karena inilah jembatan panjang tanpa tiang (longspan) melengkung yang paling panjang di dunia, 148 meter.

 

Jembatan itu dihitung dan dirancang oleh seorang insinyur perempuan Indonesia lulusan ITB, Namanya Arvila Delitriana yang sehari-hari dipanggil Dina. (Yang berdiri di sebelah kanan saya dalam foto ini, mengenakan batik cokelat)

 

Sekira sebulan sebelumnya, Dirut Adhi Karya, yaitu kontraktor BUMN yang membangun LRT ini melaporkan kepada saya bahwa dalam waktu tidak lama lagi, jembatan lengkung di atas simpangan super ramai Gatsu dan Rasuna Said akan tersambung, dan saya diminta untuk meresmikan penyambungannya.

 

Sang Dirut menambahkan, “Perancangnya orang Indonesia asli, Pak!”. Saya langsung jawab dengan antusias, “Pasti, pasti saya akan datang!”

 

Memang, kalau saya melintas bawah jembatan tersebut, saya selalu bertanya-tanya dalam hati, ini jembatan bisa nyambung nggak ya? Sebagai awam dalam rancang bangunan, takut juga melihat dua sisi jembatan berada tepat di atas lalu-lintas tol yang tidak pernah sepi di bawahnya.

 

Di bawahnya tidak ada pula tiang-tiang penopang, lantas bagaimana kerjanya ya…

 

Pada hari peresmian, sengaja saya membawa beberapa orang rekan Menteri, yaitu Menteri PUPR, Menteri BUMN dan Menteri Perhubungan untuk turut menyaksikan detik-detik penyambungan tersebut. Menurut saya, ini merupakan prestasi luar biasa, lebih-lebih saya dengar bahwa tadinya, Ir. Dina diragukan kemampuannya untuk merancang konstruksi itu oleh pesaing bule.

 

Pada pidato di atas jembatan tersebut saya puji si perancang dan juga kontraktornya karena mampu melakukan sebuah pekerjaan konstruksi luar biasa yang 100 persen dilakukan oleh orang kita. Tidak ada bule sama sekali yang ikut.

 

Siapa bilang orang Indonesia tidak bisa bersaing secara global?

 

Hanya satu hari setelah peresmian, Presiden Joko Widodo juga memuji karya hebat anak bangsa itu dalam akun medsosnya. Membaca pujian itu, saya sependapat dengan Presiden, dan hebatnya si insinyur tersebut tetap seorang yang rendah hati. Saya ajak Dina untuk makan siang di kantor saya bersama sejumlah tamu terhormat lain.

 

Salah seorang tamu bertanya kepadanya, “Bagaimana merancang jembatan lengkung begitu?”, ia hanya menjawab, “Setiap jembatan yang saya buat, saya anggap seperti bayi saya…!” Di sini saya melihat betapa Dina bekerja dengan penuh kecintaannya terhadap profesinya.

 

Bagi pihak awam lain (seperti saya) saya tambahkan data: jarak antara dua tiang penyangganya 148 meter, dan khusus bagian yang melengkung (berbelok) itu panjangnya 115 meter. Seperti diketahui, jalur LRT dari arah Cawang yang menuju Jalan Rasuna Said hanya bisa melalui sisi kanan Jalan Gatot Soebroto, dan jalur tengah Jalan HR Rasuna Said.

 

Nah, satu-satunya wilayah kosong di mana jalan bisa berbelok adalah tepat di atas perempatan jalan tersebut.

 

Simpang empatnya sendiri sudah ada jalan tiga susun; ada under-pass dari Jalan Warung Buncit, kemudian jalan biasa dan kemudian jembatan jalan tol tumpuk-menumpuk di satu lokasi! Jadi, mau-tidak-mau tidak boleh ada satu tiang pun yang berada di jalan tumpuk tiga itu, baik untuk jembatannya maupun ketika membangunnya.

 

Material beton yang digunakan untuk jembatan itu saja hampir 10 ribu ton dan besi betonnya juga masif : 3.000 ton. Maklum, ini jembatan yang akan dilewati oleh kereta api yang pasti berat dan bergerak dengan kecepatan yang relatif cepat.

 

Dan Dina dibantu oleh tim konstruksi Adhi Karya mampu menyelesaikan tanpa satu kesalahan pun. Tidak ada beton yang jatuh menimpa mobil yang melaju dibawahnya, tidak ada kecelakaan apapun dari tenaga kerja yang bekerja 24 jam non-stop.

 

Di era di mana kita sesama bangsa Indonesia sempat muncul krisis kepercayaan pada diri sendiri, ada sikap saling curiga dan setiap usaha pemerintah ditanggapi dengan cara nyinyir; patut kita ke depankan apa yang dilakukan oleh Dina dan Adhi Karya sebagai sisi positif dari anak bangsa yang tidak ribut-ribut tapi bekerja dan menghasilkan karya hebat.

 

Saya dengar, Dina kini sedang merancang jembatan lain di Teluk Balikpapan yang akan menghubungkan kota Balikpapan dengan wilayah Ibukota Negara (IKN) baru, dan bentang tanpa tiang yang ia buat itu hampir 500 meter!

 

Luar biasa! Saya harapkan ke depannya akan muncul banyak orang Indonesia lain dengan prestasi yang serupa luar biasanya, dan turut berkontribusi mengharumkan nama bangsa dan negara besar ini.

 

Hari ini kita patut bangga jadi orang Indonesa.

1
4
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini