Data Nasabah Bisa Dibobol, Sistem OJK Harus Diperbaiki!

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 06 Februari 2020 14:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 06 320 2164326 data-nasabah-bisa-dibobol-sistem-ojk-harus-diperbaiki-YcfJNOaPOB.jpg OJK (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepolisian Daerah Metro Jaya mengungkap kasus pembobolan rekening milik wartawan senior Ilham Bintang. Pembobolan tersebut, dengan modus membeli data nasabah bank dan juga membeli Sistem Laporan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Data itu nantinya digunakan untuk mencari target korbannya.

Baca Juga: Kronologi SLIK OJK Bisa Bocor ke Pembobol Rekening Ilham Bintang

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, kejadian pembobolan itu OJK harus membenahi sistemnya. Artinya ada sistem yang tidak bisa dibangun oleh OJK. Seperti semua akun itu bisa diakses semua orang dan tidak ada verifikasi.

"Hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh pihak ke tiga untuk tujuan-tujuan tertentu. Menurut saya itu harus diperbaiki," ujar dia di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Baca Juga: Data SLIK Dijual untuk Bobol Rekening Nasabah, Begini Kata OJK

Kemudian, lanjut dia, dengan kejadian itu, harus ada sangsi baik secara struktur maupun individu orang-orang yang terlibat. Baik orang-orang yang dimanfaatkan.

"Ini kan ada hal kelalaian sistem yang sebabkan banyak orang dirugikan atau banyak orang manfaatkan ini dan menurut saya itu penting," ungkap dia.

Lalu, tutur dia, harus di bangun sistem baru dengan tentu saja pergantian Sumber daya manusia (SDM), yang menangani. "Karena tentu saja ada kelemahan teknologi yang dimanfaatkan orang lain," kata dia

Sebelumnya, para pelaku pembobolan diketahui berjumlah delapan orang, yakni Desar (27), Teti (46), Wasno (52), Arman (53), Jati (33), Hendri (24), Rifan (25), dan Heni (25).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengungkapkan, otak pembobolan rekening ini dikomandoi oleh tersangka Desar, warga Palembang, Sumatera Selatan.

Untuk melakukan pembobolan tersebut, Desar awalnya membeli data nasabah bank dan juga membeli Sistem Laporan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Data itu nantinya digunakan untuk mencari target korbannya.

Data tersebut dibeli dari tersangka lainnya yakni Hendri yang mana ia memiliki akses untuk mendapatkan Slik OJK tersebut, lantaran bekerja sebagai pegawai di Bank Bintara Pratama Sejahtera (BPR).

"Tersangka H (Hendri) punya akses bisa dapat Slik OJK di situ ada data pribadi, nama lengkap, seseorang yang memiliki rekening dan limit rekeningnya," ungkap Yusri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini