Nyolong Roti di Kantin Kantor, Bankir Bergaji Rp17,8 Miliar Dihukum

Jum'at 07 Februari 2020 16:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 07 320 2165003 nyolong-roti-di-kantin-kantor-bankir-bergaji-rp17-8-miliar-dihukum-r07362D8Oe.jpg Bankir Senior Citigroup Dikabarkan Diskors karena Mencuri Makanan. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Bank pengelola investasi, Citigroup dikabarkan telah melakukan skorsing terhadap seorang bankir senior karena diduga melakukan pencurian makanan dari kantin staf. Bankir bernama Paras Shah ini dilaporkan memiliki penghasilan lebih dari 1 juta poundsterling atau setara Rp17,8 miliar per tahun, termasuk bonus-bonus.

Menurut laporan The Financial Times, Paras dipindahkan dari jabatannya sebagai kepala perdagangan obligasi untuk kawasan Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Padahal dirinya telah menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaannya. Demikian dilansir dari BBC Indonesia, Jumat (7/2/2020).

Baca Juga: Fakta Mantan Bos Nissan Carlos Ghosn, Pernah Ditawari Jadi CEO GM

Citigroup pun menolak untuk berkomentar terhadap kasus ini. Padahal menurut berbagai laporan, pria berusia 31 tahun, diskors menyusul tuduhan mencuri roti lapis dari kantin kantor pusat Citigroup di Canary Wharf, kawasan perkantoran di London.

Tidak jelas berapa kali hal ini terjadi atau berapa lama perilaku ini diperbuatnya.

Baca Juga: Mantan Bos Nissan Carlos Ghosn 'Nyesel' Tolak Tawaran Jadi CEO GM

BBC telah mencoba menghubungi Paras Shah melalui LinkedIn, tetapi profilnya sudah tak tersedia dan sudah dihapus dari platform tersebut.

Kasus Paras Shah ini muncul beberapa minggung sebelum Citygroup membayarkan bonus tahunan kepada pegawai-pegawai senior mereka.

Dia bergabung dengan Citigroup pada 2017 sesudah sebelumnya bekerja di HSBC selama tujuh tahun. Pekerjaannya termasuk memasarkan "obligasi sampah" yang diterbitkan perusahaan-perusahaan dengan kredibilitas kredit rendah atau catatan performa yang pendek, demi untuk meningkatkan pemasukan kontan kepada perusahaannya.

Obligasi jenis ini punya risiko tinggi untuk gagal bayar karena perusahaan-perusahaannya kurang kredibel atau belum terbukti performanya, maka ia dijual dengan kembalian investasi yang tinggi.

Ini yang membuat obligasi-obligasi ini dikenal sebagai obligasi dengan hasil tinggi (high-yield bonds).

Jenis obligasi seperti inilah yang antara lain menyebabkan terjadinya krisis keuangan global pada tahun 2008.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini