nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harga Bahan Bakar Pesawat Anjlok Imbas 200 Ribu Penerbangan Dibatalkan

Irene, Jurnalis · Sabtu 22 Februari 2020 14:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 22 320 2172545 harga-bahan-bakar-pesawat-anjlok-imbas-200-ribu-penerbangan-dibatalkan-akibat-virus-korona-PWpc3bFogN.jpg Pesawat (Reuters)

JAKARTA - Imbas penurunan tajam permintaan perjalanan udara global, harga bahan bakar pesawat kini ikut anjlok. Penurunan ini sebesar 17% di mana merupakan level terendahnya sejak pertengahan tahun 2017.

Turunnya biaya bahan bakar bukanlah kabar baik bagi industri penerbangan. Pasalnya, penurunan harga bahan bakar ini dibarengi dengan turunnya juga permintaan perjalanan udara malah akan menjadi pukulan bagi pendapatan dan laba perusahaan maskapai penerbangan di tahun 2020.

 Baca juga: Dampak Covid-19, Menhub: Ada Kemungkinan Harga Avtur Turun

Analis Energi S&P Global Platts Claudio Galimberti berpendapat tertahannya permintaan dapat membantu menguatkan harga di paruh kedua tahun ini, namun "2020 dikompromikan sejauh menyangkut permintaan jet [bahan bakar]," katanya, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu (22/2/2020)

Berbagai maskapai telah membatalkan lebih dari 200.000 penerbangannya karena virus korona yang terus menyebar. Virus ini juga mendorong pembatasan perjalanan dan penurunan tajam dalam permintaan ke dan dari dalam Tiongkok. Maskapai penerbangan di seluruh dunia termasuk Delta dan United yang melayani China mengumumkan telah menghentikan layanannya ke China dan Hongkong. Penerbangan di China sepanjang Febuari ini turun 80% dari tahun lalu.

 Baca juga: Insentif Maskapai Masih Tunggu Persetujuan Presiden

Sejak wabah SARS yang dimulai tahun 2002 silam, pasar perjalanan udara di Asia-Pasifik telah menjadi jantung industri penerbangan. Wilayah tersebut menyumbang angka 35% dari permintaan global tahun lalu. Tiongkok diperkirakan akan menyalip Amerika Serikat sebagai pasar perjalanan udara terbesar di dunia pada pertengahan dekade ini.

Asosiasi Transportasi Udara mengatakan permintaan perjalanan udara secara global akan turun untuk pertama kalinya sejak tahun 2009. Sedangkan biaya maskapai penerbangan di wilayah Asia-Pasifik angkanya mencapai USD29 miliar.

 Baca juga: Penerbangan ke China Disetop, Maskapai di Dunia Rugi hingga Rp68 Triliun

Sementara itu, Qantas Australia memperingatkan investor bahwa virus korona akan menguras pendapatannya hingga USD99,5 juta di paruh kedua tahun ini. Sementara itu, Qantas telah menangguhkan penerbangan China dan menegaskan akan memotong 16% penerbangan Asia hingga akhir bulan Mei.

"Wabah virus korona telah meredam pemulihan sederhana dalam permintaan (domestik) yang terlihat pada kuartal kedua dengan pemasukan turun selama beberapa minggu terakhir. Pasar rekreasi juga lunak dalam waktu dekat, tetapi ada potensi peralihan ke waktu luang domestik jika ketidakpastian terus tumbuh dan warga Australia memutuskan untuk berlibur di rumah," ungkap CEO Qantas Alan Joyce.

Hal serupa juga disampaikan Air France-KLM. Selain menangguhkan penerbangan China, pihaknya mengatakan adanya perkiraan penurunan permintaan sampai akhir bulan April yang angkanya mencapai USD217 juta.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini