JAYAPURA - Masyarakat diimbau untuk tidak panic buying dalam membeli bahan pangan atau makanan imbas virus korona masuk ke Indonesia. Jika kondisi ini terus terjadi akan memberikan dampak yang buruk bagi ekonomi Tanah Air.
Panic buying adalah tindakan membeli sejumlah besar produk yang tidak biasa untuk mengantisipasi atau setelah bencana atau bencana yang dirasakan, atau mengantisipasi kenaikan harga.
"Ya tentu kita imbau untuk tidak terlampau yang berlebihan karena ini juga akan membuat ekonomi kita akan lebih terganggu," kata pengusaha Rachmat Gobel yang juga Wakil Ketua DPR di Jayapura, Papua, Selasa (3/3/2020).
Baca Juga: Asosiasi Pengusaha Ritel Minta Masyarakat Tenang dan Tidak Perlu Panic Buying
Rachmat Gobel yang juga mantan Menteri Perdagangan ini menilai, aktivitas panic buying justru akan membuat inflasi yang nantinya mengganggu stabilitas ekonomi
"Seolah-olah bisa ciptakan inflasi dan lain sebagainya," katanya.
Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) buka suara terkait panic buying atau kekhawatiran pembelian barang dalam kondisi tertentu yang dilakukan masyarakat. Hal ini usai diumumkannya dua warga negara indonesia (WNI) yang positif virus korona.
Baca Juga: 8 Perusahaan Ritel Dibayangi Kerugian Besar Akibat Virus Korona
Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, masyarakat tidak perlu melakukan panic buying. Sebab kebutuhan baik pangan ataupun kebutuhan lainnya masih tersedia.
“Anggota peritel Aprindo selalu siap untuk hadir dan cukup dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” ujarnya saat dihubungi Okezone.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.