Musim PHK, Penting Enggak Sih Punya Asuransi?

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 01 Juli 2020 10:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 07 01 320 2239301 musim-phk-penting-enggak-sih-punya-asuransi-niuxuJPiEB.jpg Asuransi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pandemi virus Corona mempengaruhi seluruh kinerja industri. Tak heran jika banyak Industri melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan merumahkan karyawannya.

Hal ini pula yang membuat masyarakat memutuskan untuk menahan belanjanya. Sebab meskipun saat ini sudah memasuki era new normal namun ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih belum berakhir.

Perencana Keuangan Andi Nugroho menyebut dalam masa pandemi masyarakat perlu pintar-pintar untuk mengatur keuangan. Sebab, jika tak pintar maka keuangan atau dompet bisa jebol.

Baca juga: Baru Rp22 Miliar, Kemenkes Beri Uang Muka Pembayaran Klaim 931 Pasien Covid-19

Dalam mengatur keuangan yang paling penting adalah bagaimana memilah mana yang jadi kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Dalam masalah pandemi ini, gang perlu dimasukan ke dalam kebutuhan adalah yang berkaitan dengan kesehatan.

"Apakah dalam masa kondisi pandemi seperti ini kan kita mesti nginget-nginget ada beberapa barang yang sekarang menjadi kewajiban untuk dikonsumsi misalnya contohnya adalah masker, handsanitizer, kebutuhan untuk multivitamin untuk menjaga imunitas tubuh," ujarnya kepada Okezone, Rabu (1/7/2020).

Baca juga: Mike Pence: Perusahaan Asuransi AS Tanggung Biaya Pemeriksaan Virus Korona

Sementara itu pengamat ekonomi dan asuransi kesehatan Universitas Indonesia Budi Hidayat mengatakan, tantangan kesehatan yang begitu kompleks melahirkan sejumlah risiko sakit. Sehingga, perencanaan keuangan yang tepat menjadi krusial agar terhindar dari katastoprik.

Katastoprik merupakan ketika rumah tangga membelanjakan lebih dari 10% dari pendapatan mereka untuk perawatan kesehatan. Faktanya 10,5 juta masyarakat membelanjakan lebih dari 10% dari total pendapatan mereka untuk biaya kesehatan di 2013. Kemudian di 2017, naik menjadi 11,8 juta.

“Peluang belanja katastropik rumah tangga makin tinggi ketika ada keluarga yang membutuhkan pelayanan rawat inap,” ucapnya.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengatakan, dalam kondisi krisis ekonomi seperti ini, masyarakat akan lebih memilih untuk meningkatkan kebutuhan untuk kenyamanan hidupnya. Sehingga, pengeluaran untuk kebutuhan terisier akan dikurangi termasuk asuransi.

"Sebagian besar pembiayaan mobil dan rumah menggunakan kredit perbankan dan multifinance, menurunnya pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan itu akan berpengaruh terhadap asuransinya. Ekspansi kredit pun masih agak berat, karena semua sektor bisnis terdampak," jelasnya

Menurut Irvan, menilai bahwa penurunan premi asuransi umum dapat terlihat dari indikasi peningkatan kredit macet (non performing loan/NPL) di perbankan. Kondisi tersebut menurutnya perlu diantisipasi oleh perusahaan-perusahaan asuransi.

Hal ini juga bisa mengakibatkan penundaan perpanjangan polis asuransi. Penurunan kolektibilitas premi pun bisa berakibat kepada penurunan risk based capital (RBC) perusahaan asuransi, yang nantinya akan menggerus modal perseroan.

"Kinerja bisnis baru terkait dengan ekspansi kredit yang melambat, sedangkan bisnis perpanjangan terkait dengan relaksasi kredit yang tidak otomatis diberikan, melainkan tetap melalui asesmen perbankan, sehingga timbul potensi NPL meningkat," jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Prudential Jens Reisch mengatakan masyarakat perlu bijak dalam merencanakan keuangan teutana untuk mempersiapkan perlindungan keselamatannya. Mengingat virus corona ini bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja.

Pihaknya juga mengaku akan lebih fleksibel untuk memberikan produk kepada masyarakat. Produk-produk yang diberikan akan melihat kebutuhan pasar dan kondisi saat ini.

“Pandemi covid-19 bahwa risiko kesehatan bisa menyerang kita kapan saja dan beberapa dampak pda financial keluarga,” ucapnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini