JAKARTA - Pandemi virus Corona mempengaruhi seluruh kinerja industri. Tak heran jika banyak Industri melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan merumahkan karyawannya.
Hal ini pula yang membuat masyarakat memutuskan untuk menahan belanjanya. Sebab meskipun saat ini sudah memasuki era new normal namun ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih belum berakhir.
Perencana Keuangan Andi Nugroho menyebut dalam masa pandemi masyarakat perlu pintar-pintar untuk mengatur keuangan. Sebab, jika tak pintar maka keuangan atau dompet bisa jebol.
Baca juga: Baru Rp22 Miliar, Kemenkes Beri Uang Muka Pembayaran Klaim 931 Pasien Covid-19
Dalam mengatur keuangan yang paling penting adalah bagaimana memilah mana yang jadi kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Dalam masalah pandemi ini, gang perlu dimasukan ke dalam kebutuhan adalah yang berkaitan dengan kesehatan.
"Apakah dalam masa kondisi pandemi seperti ini kan kita mesti nginget-nginget ada beberapa barang yang sekarang menjadi kewajiban untuk dikonsumsi misalnya contohnya adalah masker, handsanitizer, kebutuhan untuk multivitamin untuk menjaga imunitas tubuh," ujarnya kepada Okezone, Rabu (1/7/2020).
Baca juga: Mike Pence: Perusahaan Asuransi AS Tanggung Biaya Pemeriksaan Virus Korona
Sementara itu pengamat ekonomi dan asuransi kesehatan Universitas Indonesia Budi Hidayat mengatakan, tantangan kesehatan yang begitu kompleks melahirkan sejumlah risiko sakit. Sehingga, perencanaan keuangan yang tepat menjadi krusial agar terhindar dari katastoprik.
Katastoprik merupakan ketika rumah tangga membelanjakan lebih dari 10% dari pendapatan mereka untuk perawatan kesehatan. Faktanya 10,5 juta masyarakat membelanjakan lebih dari 10% dari total pendapatan mereka untuk biaya kesehatan di 2013. Kemudian di 2017, naik menjadi 11,8 juta.
“Peluang belanja katastropik rumah tangga makin tinggi ketika ada keluarga yang membutuhkan pelayanan rawat inap,” ucapnya.