Gara-Gara WFH, Penyewa Kantor di Jakarta Turun Drastis

Giri Hartomo, Jurnalis · Sabtu 11 Juli 2020 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 470 2244781 gara-gara-wfh-penyewa-kantor-di-jakarta-turun-drastis-gF0rgcHpLk.jpg Pekerja (Okezone)

JAKARTA - Tingkat hunian perakntoran di Jakarta terus mengalami penurunan. Apalagi dengan adanya kebijakan Work From Home (WFH) oleh beberapa perusahaan membuat ada reduksi penggunaan ruang kantor.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan selama enam bulan terakhir, tingkat hunian perkantoran terus menurun. Ada beberapa penyebab turunnya okupansi atau tingkat hunian perkantoran ini salah satunya adalah karena adanya kebijakan WFH.

 Baca juga: Kondisi Sangat Berat, Tak Ada Tambahan Ruang Perkantoran di Kuartal II-2020

"Tingkat hunian dan tarif sewa yang kita lihat di CBD dan luar kawasan CBD. Memang tren tingkat hunian memang selama enam bulan terakhir terus menurun," ujarnya, Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Menurut Ferry, secara umum okupansi perkantoran turun dari 83,5% menuju 82%. Diprediksi angka tingkat hunian perkantoran akan terus turun menyusul bertambahnya pasokan.

"Penyebabnya tidak lain karena memang supply yang masuk ini tidak bisa mengimbangin dengan jumlah penyerapan di kantor. Sehingga secara umum okupansi turun dari 83,5% sekarang hanya jadi 82%," jelasnya.

 Baca juga: Minat Perusahaan TI Sewa Kantor di Jakarta Diproyeksi Terus Tumbuh

Bahkan menurut Ferry, penyerapan perkantoran ini akan berada di angka 78%. Angka ini menjadi titik terendah dalam beberapa tahun belakangan.

"Dan untuk mengantisipasi banyaknya supplay yang masuk sampai 2021 ditambah lagi dengan tidak terlalu berkembangnya penyerapan office sampai 2020 okupansi kami perkirakan akan turun dibawah 82% pada tahun 2020 dan kemudian akan terus turun tahun 2021 sekitar 78%," kata Ferry.

Menurut Ferry, prediksi tersebut adalah proyeksi saat situasi normal. Artinya jika situasi seperti pandemi ini perlu ada effort lagi agar tingkat hunian perkantoran di Jakarta bisa kembali naik di atas 80%.

 Baca juga: Perusahaan TI Sesaki Ruang Perkantoran Premium

"Penyebabnya antara lain karena memang bila sektor ini kita harapkan terjadi recovery apabila bangkit kembali, maka tetap diperlukan suatu dorongan yang kuat supaya sektor ini bisa kembali menuju titik okupansi diatas 80%," jelas Ferry.

"Tapi dengan kondisi yang sekarang di mana semuanya sedang tidak normal. Proyeksi itu terlalu tinggi jadi makanya ditambah dengan proyeksi penyerapannya rendah supplay besar. Tingkat hunian di akhir 2021 itu akan mencapai titik terendahnya dimana CBD 78% sedangkan untuk kawasan di luar CBD 79%," imbuhnya.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini