Tarif Listrik Turun, Pendapatan PLN Bisa Hilang Rp391 Miliar

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Sabtu 05 September 2020 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 05 320 2273008 tarif-listrik-turun-pendapatan-pln-bisa-hilang-rp391-miliar-oHADNhOet5.jpg Listrik (Foto: Dok PLN)

JAKARTA - Penurunan tarif listrik bagi pelanggan non subsidi berdampak terhadap pendapatan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Meski begitu, potensi kerugian tersebut diklaim tidak berpengaruh pada neraca keuangan perusahaan.

Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan, potensi kehilangan pendapatan dari penurunan tarif listik non subdisi sebesar Rp391 miliar hingga akhir tahun. Menurut dia, penurunan pendapatan tersebut tidak menjadi masalah karena pada saat yang sama perusahaan juga melakukan efisiensi.

"Dampak ke potensi pendapatan sebesar Rp391 miliar. Itu pendapatan. Nah, bagaimana kalau kita melakukan penghematan? Kalau kita hemat biaya maka tidak bermasalah dan ada kompensasi dari pemerintah juga," ujarnya di Jakarta, Jumat (4/9/2020) malam.

Baca Juga: Tarif Listrik Turun untuk Golongan Tertentu, Simak 6 Faktanya 

Bob menuturkan, perusahaan akan melakukan penghematan melalui bauran energi dengan menggunakan energi berbiaya murah. Misalnya, melalui pengadaan batubara yang biayanya lebih murah. Selain itu, efisiensi yang dilakukan perseroan dengan mengganti diesel di tempat terpencil dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

"Artinya, biaya-biaya tadi bisa berkurang. Tapi yang paling penting dengan pengurangan ini, kami harapkan konsumsi listrik naik," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif telah menetapkan penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (Tariff Adjustment) periode Oktober-Desember 2020 untuk 7 (tujuh) golongan pelanggan nonsubsidi. Hal ini termuat dalam Surat Menteri ESDM kepada Direktur Utama PT PLN (Persero) tanggal 31 Agustus 2020.

Untuk pelanggan tegangan rendah tarifnya ditetapkan Rp 1.444,70 per kWh atau turun sebesar Rp22,5 per kWh dari periode sebelumnya. Sedangkan untuk pelanggan tegangan menengah dan tegangan tinggi tarifnya tetap, sama dengan perhitungan besaran tarif tenaga listrik periode Juli-September 2020. Sedangkan khusus untuk pelanggan rumah tangga 900 VA-RTM, tarifnya tidak naik atau tetap sebesar Rp1.352/kWh.

Bob melanjutkan, saat ini konsumsi listrik rumah tangga terjadi kenaikan sebesar 9-10% selama pandemi Covid-19. Sementara untuk sektor industri meski sudah mulai ekspansif, namun kenaikannya belum kembali seperti sebelum pandemi Covid-19.

"Untuk pertumbuhan sektor industri memang sudah agak naik dibandingkan bulan April dan Mei tetapi kenaikannya belum mencapai sebelum Covid. Ini harus kita dorong karena ini menunjukkan kegiatan ekonomi semakin baik," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini