Share

Resesi, Ekonomi RI 2020 Diprediksi Minus 2%

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 24 September 2020 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 24 320 2283021 resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2-FrLh9XAoA5.jpg Indonesia Terancam Resesi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia segera menjadi negara selanjutnya yang mengalami resesi karena pandemi virus corona. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 2% sampai 3%.

“Kalau kita lihat bisa minus 2% hingga minus 3% di kuartal III. Lalu kami memperkirakan pertumbuhan full-year ekonomi Indonesia pada 2020 akan berada pada kisaran minus 1% sampai minus 2%," Chief Economist Group Bank Mandiri Andry Asmoro, dalam diskusi virtual, Kamis (24/9/2020).

Baca Juga: Indonesia Resesi, Tak Sedalam Malaysia hingga Singapura

Menurut dia, penanganan Covid-19 menjadi kunci pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan penanganan dan penerapan protokol Covid-19 yang benar, Indonesia berpeluang mendapatkan porsi yang besar dari pemulihan ekonomi global.

“Jika kita bisa, maka peluang besar kita peroleh karena likuiditas cukup besar, suku bunga masih relatif rendah, dan ada permintaan yang tertahan,” sambungnya.

Baca Juga: Resesi Tak Terhindarkan meski Data Ekonomi Membaik

Ditambahkannya, faktor-faktor positif yang terus menggerakkan pertumbuhan ekonomi adalah angka-angka retail sudah melewati level terendahnya di April dan Mei, suku bunga acuan Bank Indonesia masih rendah hingga 1-2 tahun ke depan, transfer dana atau bantuan sosial yang lebih besar di semester II tahun ini, serta omnibus law.

Namun, beberapa faktor negatifnya kasus Covid-19 yang terus naik dan belum terlihat peaknya dan berdampak pada diterapkannya kembali PSBB di provinsi besar

"Pertumbuhan PDB yang mungkin terkontraksi di kuartal III dan IV, kurva stagnan dari proses pemulihan sisi permintaan, serta aliran modal masih dapat berbalik jika risiko meningkat," katanya.

Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV masih kontraksi, namun bisa berpeluang positif apabila ada dorongan belanja modal negara dan masyarakat.

“Kami lihat ada kontraksi minus 1% sampai dengan minus 2% sampai akhir tahun ini,” pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini