Indonesia Resesi, Sandiaga Uno: Industri Pengolahan Kulit Perlu Didukung

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 07 November 2020 22:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 07 320 2305837 indonesia-resesi-sandiaga-uno-industri-pengolahan-kulit-perlu-didukung-Iy8dpBUQGh.jpg Pengusaha Nasional Sandiaga Uno. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Resesi ekonomi imbas pandemi virus corona atau covid-19 berdampak langsung terhadap pelaku usaha, baik industri besar hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satu contohnya seperti industri pengolahan kulit di Sukaregang, Kecamatan Garut Kota, Garut, Jawa Barat.

Ketua UMKM Jakarta Sandiaga Salahudin Uno menilai bisnis pengolahan kulit merupakan salah satu industri padat karya. Industri lokal yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Baca Juga: UMKM Bisa Jadi Penyelamat Jilid II saat Ekonomi Resesi

Oleh karena itu, dia berharap agar pemerintah dapat terus mendukung kalangan pengusaha, sehingga usaha dapat terus berjalan di tengah keterbatasan saat ini.

"Industri ini harus terus didukung. Apalagi produknya sudah memiliki kualitas internasional. Tidak kalah dengan produk luar," ujar Sandiaga dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/11/2020).

Baca Juga: Menko Airlangga: Perbaikan Ekonomi Indonesia Didorong oleh Sisi Demand yang Melonjak

Menurutnya, pemerintah perlu memberi insentif kepada para pelaku usaha, terutama bagi pelaku usaha UMKM. Sebab, mereka merupakan penopang ekonomi nasional untuk bisa keluar dari jurang resesi. Sedangkan bagi industri besar, pemerintah harus memberikan kemudahan cash flow agar likuiditas perusahaan lancar.

"Dengan begitu, industri kulit bisa tetap bertahan di tengah pandemi. Jika tidak ada perhatian, akan banyak karyawan kehilangan pekerjaan," katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Wakil Direktur PT Garut Makmur Perkasa, Indrawan. Dirinya mengungkapkan pandemi covid-19 sangat berdampak langsung terhadap kelangsungan usaha. Penjualan katanya menurun drastis sejak pandemi ditetapkan sebagai bencana nasional pada awal tahun 2020 lalu.

"Februari sampai Juni penjualan mengalami penurunan. Bahkan pada Maret kita sama sekali tak bisa menjual produk," kata dia.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini