Ekonom: Ya Hemat Pangkal Kaya, tapi Bisa Membunuh Ekonomi

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 27 November 2020 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 320 2317294 ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi-Q31UZDSFZA.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menyebutkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi ke arah 10% atau bahkan yang lebih tinggi untuk saat ini.

Seharusnya, pemerintah berfokus bagaimana bisa menyeimbangkan keadaan sehingga bisa kembali ke kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Baca Juga: Ada Vaksin, Ekonomi dan Investasi RI Siap "Lari" Tahun Depan

"Hal ini dapat dilakukan dengan mempercepat serapan anggaran dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas vaksin Covid-19," kata Ari dalam IDX Market Review di Jakarta, Jumat (27/11/2020).

Dia mengatakan, Indonesia bisa mengambil contoh dari China. Di China, sebelum ada vaksin, masyarakat sudah tahu bahwa akan ada vaksin dan ada hasil uji klinis vaksin yang memberikan kepercayaan.

"Yang dituju itu tingkah laku sebelum pandemi, di China mereka biasanya membeli barang-barang tahan lama dan melakukan travelling," tambahnya.

Di Indonesia saat ini, masyarakat cenderung menahan sebagian pendapatan di tabungan. Mereka menahan diri untuk tidak melakukan pembelian untuk berhemat.

"Ya hemat pangkal kaya, tapi terlalu berhemat bisa membunuh ekonomi. Pemerintah punya PR untuk membuktikan efektivitas vaksin, dan ingat, virus bisa bermutasi, maka kebijakan pun harus bisa bermutasi juga mengikuti keadaan," tekan Ari.

 Untuk penyerapan anggaran, dia menegaskan bahwa auditnya sudah harus dikawal sejak awal. Selain itu, dia menyebutkan bahwa Indonesia ada peluang di sektor kesehatan.

"Vaksin merah putih yang diproduksi dalam negeri, multipliernya dari dalam negeri. Bukan hanya itu, tapi obat-obatan dan jamu herbal produksi dalam negeri juga," ungkap Ari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini