Realisasi Investasi ESDM Anjlok, Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Selasa 12 Januari 2021 13:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 320 2343062 realisasi-investasi-esdm-anjlok-harga-minyak-jadi-biang-kerok-OJS31Avekg.jpg Realisasi Investasi ESDM 2020. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Realisasi investasi sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020 hanya USD24,4 miliar. Realisasi ini mengalami penurunan dibandingkan 2019 sebesar USD33,2 miliar.

Adapun subsektor migas pada 2020 masih memberikan kontribusi investasi paling besar yaitu USD12,1 miliar, menurun dibandingkan 2019 sebesar USD12,9 miliar.

Baca Juga: Manfaatkan Gas Bumi, BBG hingga Jargas Dikebut

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, jatuhnya harga minyak sepanjang 2020 menjadi penyebab turunnya realisasi investasi migas. Kondisi ini membuat kontraktor migas memilih untuk wait and see terlebih dahulu.

"Yang utama bagi pengusaha migas adalah harga minyak karena itu semua menentukan investasi kita," ujarnya pada Market Review IDX Channel, Selasa (12/1/2021).

Dia melanjutkan, pada 2020, jatuhnya harga minyak dunia dimulai oleh pandemi Covid-19. Namun pertemuan OPEC+ tidak menemukan kesepakatan dengan negara-negara di luar OPEC seperti Rusia dan Meksiko yang menolak pemotongan produksi minyak yang diusulkan oleh Arab Saudi.

"Dari situlah yang memicu jatuhnya harga minyak secara drastis," imbuhnya.

Baca Juga: Realisasi Lifting Migas Tembus 1.682 Mboepd di 2020

Moshe menuturkan, pandemi Covid-19 juga memperburuk situasi karena permintaan menurun drastis. Hal ini yang membuat investor maupun kontraktor migas memilih menahan investasi secara besar terutama di sektor eksplorasi.

"Kami sebagai kontraktor, pemain migas melihat itu sebagai suatu krisis 2020 di mana permintaan menurun, kondisi harga minyak juga anjlok sehingga investor menahan dulu. Jadi tidak terlalu mengeluarkan modal secara besar apalagi yang paling banyak kena itu di kegiatan eksplorasi," jelasnya.

Selain itu, restriksi pembatasan sosial berskala besar dan perjalanan luar kota dan luar negeri juga menunda kegiatan operasional. Menurut Moshe, banyak proyek terhambat karena adanya pembatasan sosial termasuk operasi perawatan dan kegiatan lainnya.

"Walaupun perusahaan K3S punya anggaran untuk melakukan proyeknya atau membayar kontraktornya, tapi banyak pekerjaan yang terhambat karena restriksi pembatasan sosial. Mobilisasi material dan peralatan juga jadi terhambat sehingga menyebabkan produksi menurun," tandasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini