Mantan Menteri BUMN Ragu LPI Bisa Tarik Investasi Jumbo ke RI

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 16 Maret 2021 15:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 16 320 2378683 mantan-menteri-bumn-ragu-lpi-bisa-tarik-investasi-jumbo-ke-ri-GTDgk8HhXW.jpg Investasi (Foto: Ilustrasi Okezone.com)

JAKARTA - Mantan Menteri BUMN Tanri Abeng meragukan keberadaan Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Tanri pesimis LPI bisa menarik investasi asing ke Indonesia dengan nilai investasi yang tinggi.

Tanri Abeng mencatat, ada dua hal yang menjadi perhatian investor yakni risiko dan hasil investasi (return).

Baca Juga: Jasa Marga Bidik Rp3 Triliun dari Lembaga Pengelola Investasi

"Dana yang masuk di INA itu adalah dari dana asing. Itu mereka melihat dua hal, itu resiko dan return," ujar dia Selasa (16/3/2021).

Resiko investasi berkaitan nilai investasi yang digelontorkan investor terhadap aset atau bisnis yang ditawarkan BUMN ataupun perusahaan lainnya. Artinya, investor akan mempertimbangkan aset yang ditawarkan apakah berpotensi beresiko merugi atau justru menguntungkan.

Investor juga melihat return dari investasi yang dilakukan. Dua hal ini, kata dia, menjami pertimbangan bahwa tidak ada jaminan bagi investor asing untuk menyuntik dana investasi dengan nilai yang tinggi, meski komitmen yang dibangun sejak awal.

Baca Juga:  Bentuk Tim, Erick Thohir Siapkan Aset Negara yang Dikelola LPI

"Pasti mereka melihat return, jadi beda dengan ngutang, kalau ngutang itu fixed rate, kalau ini tidak, jadi belum tentu dana-dana itu betul-betul masuk, meski sudah dijanjikan dan jumlahnya tidak sebesar itu," kata dia.

Dia juga mencatat, pergantian direksi dan komisaris di sejumlah BUMN yang dilakukan dalam waktu cepat akan menciptakan stigma negatif dari investor asing terhadap perusahaan pelat merah.

Bisnis BUMN sangat potensial untuk menarik investasi asing ke Indonesia melalui skema INA. Namun, bongkar pasang manajemen memberikan kesan negatif terhadap kinerja perseroan.

"Menteri BUMN (Erick Thohir) jangan terlalu cepat bongkar pasang manajemennya, tapi taruhnya manajemen yang kompeten, berikan otoritas responsibility dan dipantau, jangan sebentar ganti lagi. Jadi bagaimana kita bisa mengharapkan INA ini memperoleh dana yang cukup untuk bisa disalurkan kepada BUMN yang memiliki potensi?," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini