Mudik Dilarang, Daya Beli Masyarakat di Kota Besar Lebih Tinggi

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 18 Mei 2021 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 18 320 2411703 mudik-dilarang-daya-beli-masyarakat-di-kota-besar-lebih-tinggi-wtV0NgzjMV.jpg Mudik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Larangan mudik yang diberlakukan pemerintah pada periode 6 hingga 17 Mei berdampak kepada perekonomian. Khususnya dari pertumbuhan ekonomi yang ada di perkotaan dengan di pedesaan.

Peneliti Makroekonomi LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky mengatakan, larangan mudik membuat ekonomi mengalami perubahan alur. Adapun perubahan alur yang dimaksud ini terbagi menjadi dua sisi yakni dari regional dan juga sektoral.

Baca Juga: Masalah Kesehatan Selesai, Jalan Ekonomi RI Bisa Bangkit

"Poin menarik jadi memang larangan mudik ada dampak perubahan alur. Satu dari sisi regional atau daerah dua dari sisi sektoral," ujarnya dalam acara market review, Selasa (18/5/2021).

Dari sisi regional, pergerakan uang kini tidak lagi merata ke daerah-daerah. Daya beli masyarakat di kota-kota besar akan jauh lebih besar dibandingkan di daerah atau pedesaan.

"Nah dengan dilakukannya larangan mudik, income yang mereka lakukan mereka tidak bisa spending di daerah asal sehingga terjadi pemusatan uang dan proses daya beli masyarakat di kota kota besar," ucapnya.

Baca Juga: RI Punya Tabungan Pertumbuhan Ekonomi, Bisa Sampai 7%?

Sebab biasanya, masyarakat yang melakukan mudik pada hari lebaran adalah masyarakat daerah yang mencari uang di kota-kota besar. Pada saat momen lebaran para pekerja ini kembali ke kampung halaman untuk belanja di daerah asalnya, sedangkan dengan adanya larangan mudik lebaran hal tersebut tidak bisa dilakukan.

"Satu memang sudah kita lihat sekarang ini masyarakat yang mudik itu adalah masyarakat dari kampung yang mencari kerja di kota-kota besar seperti misalnya Jabodetabek, Surabaya atau Medan. Dan waktu lebaran mereka pulang ke kampung halamannya masing-masing," kata Riefky.

Sementara itu, dari sisi sektoral juga kini ikut mengalami perubahan. Biasanya sektor-sektor yang tumbuh pada momen lebaran adalah seperti transportasi, kemudian sektor akomodasi hingga makanan dan minuman.

"Di sisi lain, perubahan alur yang terjadi adalah dari sisi sektoral. Kalau dari sisi sektoral, sektor yang tumbuh selama mudik adalah sektor transportasi karena masyarakat melakukan mobilitas jarak jauh, kemudian juga sektor akomodasi dan makanan dan minuman," jelas Riefky.

Namun dengan adanya larangan mudik ini, sektor-sektor tersebut kini memiliki nasib yang berbeda. Hal ini bisa dilihat dari penjual makanan dan minuman serta oleh-oleh yang biasanya laris manis di sepanjang jalur mudik kini relatif sepi.

"Di mana di sepanjang jalur mudik mereka akan melakukan makan dan minum membeli oleh-oleh dan lain sebagainya. Ini yang tidak terjadi dengan adanya larangan mudik," ucapnya.

Menurut Riefky, realitas ini tidak bisa dihindari oleh para pelaku usaha di sektor tersebut. Meskipun sektor transportasi hingga makanan dan minuman ini sudah mulai terkena imbasnya sejak pandemi covid-19 berlangsung karena adanya pembatasan-pembatasan untuk mencegah penyebaran virus covid-19.

"Ini adalah realitas yang tidak bisa dihindari karena sektor seperti transportasi, akomodasi dan makanan dan minuman ini tidak berdampak negatif hanya selama lebaran atau mudik saja. Selama pandemi pun daerah atau sektor yang mengandalkan dari sisi pariwisata atau mobilitas masyarakat sudah berdampak negatif dari tahun lalu," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini