Praktik Bisnis Kotor Selama Covid-19, Setelah Tes Antigen Bekas Kini Vaksin Ilegal

Sabtu 22 Mei 2021 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 22 320 2413996 praktik-bisnis-kotor-selama-covid-19-setelah-tes-antigen-bekas-kini-vaksin-ilegal-Jr8oDWsNRi.jpg PNS Jual Vaksin Covid-19 Ilegal. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Masyarakat kembali dikagetkan dengan adanya praktik jual beli vaksin Covid-19 di Medan, Sumatera Utara. Padahal belum lama terjadi kasus praktik daur ulang alat rapid test antigen bekas yang juga terjadi di Medan.

Program vaksinasi Covid-19 diketahui tak dipungut biaya. Namun praktik-praktik itu membuka mata bahwa ada yang memanfaatkan bisnis 'kotor' di tengah pandemi Covid-19.

Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra, menetapkan empat orang berinisial SW, IW, KS, dan SH sebagai tersangka dalam kasus dugaan jual beli vaksin COVID-19 di Kota Medan. Mirisnya, tiga dari empat tersangka merupakan PNS, yakni IW, KS, dan SH.

IW seorang dokter yang berstatus sebagai aparatur sipil negara dan bertugas di Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan. Lalu, KS merupakan dokter sekaligus aparatur sipil negara di Dinas Kesehatan Sumut. Begitu juga dengan SH yang merupakan aparatur sipil negara di Dinas Kesehatan Sumut. Sedangkan, SW, merupakan masyarakat sipil.

Baca Juga: Jokowi: Indonesia Siap Jadi Hub Produksi Vaksin Covid-19 di Asia Tenggara

"Pengungkapan tindak pidana korupsi dengan cara menerima suap yang dilakukan oleh aparatur sipil negara pada pelaksanaan distribusi dan pemberian vaksin kepada masyarakat dengan cara menerima imbalan berupa uang," kata Panca di Medan, dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (22/5/2021).

Para tersangka itu memperjualbelikan vaksin yang seharusnya diperuntukan kepada pelayan publik dan narapidana di Rutan Tanjung Gusta.

"Tapi itu tidak diberikan ke sana. Tapi diberikan kepada masyarakat yang membayar," ujar Panca.

Dalam modus operandi kasus dugaan jual beli vaksin Covid-19 jenis Sinovac itu, para tersangka memiliki tugas masing-masing. Diawali dari SW yang merupakan agen properti dari perumahan dan bertugas mengumpulkan masyarakat yang hendak divaksin.

Lalu, SW berkoordinasi dengan IW untuk mendapatkan vaksin yang nantinya akan dijual kepada masyarakat. Hasil penjualan vaksin Covid-19 itu kemudian diterima IW dan KS. Dalam mendapatkan vaksin Covid-19. IW meminta pasokan vaksin Covid-19 kepada SH yang bertugas di Dinas Kesehatan Sumut.

Baca Juga: Harga Vaksin Gotong Royong Dinilai Terlalu Mahal bagi Perusahaan Kecil

"Memberikan vaksin kepada IW tanpa melalui mekanisme dan prosedur sebagaimana yang seharusnya," ujar Panca.

Dalam kasus ini para tersangka memasang tarif senilai Rp250 ribu bagi masyarakat yang ingin melakukan vaksinasi. Bisnis kotor ini telah yang dilakukan sebanyak 15 kali dan berlangsung sejak April hingga Mei 2021. Keuntungan dalam kegiatan vaksinasi berbayar ini mencapai Rp271 Juta dari 1.085 orang yang divaksin.

"Di mana Rp238 juta itu diberikan kepada IW dan sisanya Rp32,5 juta itu diterima atau diberikan kepada SW. Karena dalam kesepakatan mereka membagi Rp250 ribu. Di mana Rp30 ribu diberikan ke SW dan Rp220 ribu untuk IW," ucap Panca.

Dalam melakukan pengembagannya, polisi pun turut menggeledah Kantor Dinas Kesehatan Sumut, Jumat (21/5). Penggeledahan itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan lainnya dalam kasus ini. Pasalnya, polisi menemukan alat bukti bahwa KS telah beberapa kali memberikan vaksin kepada IW tanpa melalui prosedur dan surat resmi.

"Kami juga menemukan alat bukti kepada KS yang sebelumnya tujuh kali melakukan vaksinasi berdasarkan permintaan IW. Ini masih kami terus dalami berdasarkan bukti-bukti penerimaannya selama tujuh kali itu," ungkap Panca.

Saat ini polisi masih terus melakukan penyelidikan terkait siapa saja pihak-pihak yang memberikan vaksin jenis Sinovac itu.

Sementara itu, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, bakal memecat para oknum aparatur sipil negara yang terlibat dalam kasus ini.

"Pasti pecat. Sesuai peraturan yang berlaku melakukan hal yang seperti itu. Itu vaksin untuk diberikan untuk mengantisipasi supaya orang tidak terjangkit Covid-19 tetapi malah vaksin diperlakukan seperti begitu," kata Edy di Medan.

Edy pun menegaskan apa yang dilakukan oknum-oknum aparatur sipil negara itu telah menyalahi aturan.

"Sudah pasti diinstruksikan tak boleh melakukan perbuatan yang menyalahi. Saat ini kondisi kita sudah sulit. Kondisi sedang sulit perlu adanya kemudahan dari Tuhan. Untuk (dapat) kemudahan kita harus berbuat baik," pungkasnya.

Menurut Direktur Eksekutif Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Indonesia, Dr. dr. Delyuzar M.Ked (PA),Sp,PA (K), kasus yang diungkap polisi soal vaksin Covid-19 berbayar tersebut merupakan pelanggaran kemanusiaan. Pasalnya, pemerintah telah menyiapkan vaksin Covid-19 secara gratis yang akan diberikan kepada masyarakat.

"Dalam kondisi sekarang tiba-tiba itu ditarik bayaran Rp 250 ribu itu memprihatinkan. Ini tentu memprihatinkan di tengah kondisi seperti ini kita berada dalam keadaan kayak begini. Tapi masih ada orang dengan tega melakukan tindakan seperti itu. Menurut saya itu suatu pelanggaran kemanusiaan," katanya kepada VOA.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini