IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI, Aprindo: Konsumsi Rumah Tangga Turun

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Sabtu 31 Juli 2021 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 320 2448904 imf-pangkas-proyeksi-ekonomi-ri-aprindo-konsumsi-rumah-tangga-turun-TRUlEIyQoE.jpg IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,9% di tahun ini. Sebelumnya IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,3%.

Merespons hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengatakan, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi sejalan dengan penurunan konsumsi rumah tangga di sektor ritel. Konsumsi rumah tangga menjadi komponen penting bagi perekonomian. Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB Indonesia mencapai sekitar 58%.

Baca Juga: PPKM Darurat Diperpanjang, Ekonomi Kuartal III Diprediksi di Bawah 3%

"Kita masih negara konsumsi, belum menjadi negara pengekspor. Tentunya penurunan konsumsi rumah tangga membuat penilaian terhadap pertumbuhan ekonomi kita menjadi turun dari harapan semula 4,3%-5,3%," ujarnya dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, Sabtu (31/7/2021).

Roy melanjutkan, sektor yang mendukung konsumsi rumah tangga seperti pasar swalayan atau ritel yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat memang terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) dalam dua bulan terakhir.

Baca Juga: Ekonomi RI Sulit Bangkit jika Kasus Covid-19 Masih Tinggi

"Bulan April masih 17,3% mom, kemudian Mei turun jadi 3,2%. Bulan Juni pasti turun lagi, apalagi Juli karena adanya pembatasan. Ini menggambarkan kinerja dari konsumsi," ungkapnya.

Menurut dia, hanya di bulan April saja yang pertumbuhannya bagus selama pandemi Covid-19. Setelah itu terjadi penurunan dan sekarang bisa lebih turun lagi karena ada PPKM Darurat.

"Konsumsi ini yang harus dijaga supaya ekonomi jangan turun lebih dalam lagi. Kemudian meningkatkan ekspor karena itu mendapatkan devisa, meningkatkan investasi, dan juga mengurangi impor. Ini jadi suatu bagian yang belum terselesaikan karena bahan baku dan bahan penolong kita masih banyak yang impor," tuturnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini