Kontribusi Industri ke Ekonomi Ditarget Tembus 20% di 2024

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 08 September 2021 18:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 08 320 2468289 kontribusi-industri-ke-ekonomi-ditarget-tembus-20-di-2024-cJzonmdjiI.jpg Menperin ingin kontribusi industri ke ekonomi meningkat (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian menargetkan kontribusi sektor industri terhadap ekonomi nasional meningkat. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan tahun 2024, sumbangsih industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yang tahun ini diproyeksi menyokong sebesar 18%.

“Guna mencapai sasaran tersebut, minimal pertumbuhan industri di posisi 5% pada tahun 2022. Oleh karena itu, kami bertekad untuk turut menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para pelaku industri di tanah air,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (8/9/2021).

Baca Juga: Minta Industri Produksi Alkes hingga Obat, Menko Luhut Pasang Badan soal Perizinan

Menperin mengemukakan, pandemi Covid-19 membawa dampak yang cukup berat bagi aktivitas sektor industri di Indonesia. Pada kuartal I-2021, pertumbuhan industri manufaktur sempat minus 1,38% secara tahunan. “Namun, lajunya semakin membaik, hingga mampu menembus 6,58% pada kuartal II-2021,” ungkapnya.

Terjadinya lonjakan kinerja sektor industri karena adanya beberapa stimulus dan kebijakan probisnis yang telah diluncurkan pemerintah. Langkah ini guna membangkitkan kembali gairah usaha para pelaku industri setelah terdampak pandemi Covid-19.

Baca Juga: Luhut: 268 Perusahaan Uji Coba Penerapan Protokol Kesehatan

Stimulus tersebut misalnya, pemberian fasilitas berupa relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP). Insentif fiskal ini mampu meningkatkan produktivitas dan daya beli masyarakat. Pada kuartal II-2021, laju penjualan mobil menanjak tajam lebih dari 758%.

Di samping itu, kebijakan lainnya yang sedang difokuskan oleh Kemenperin adalah program substitusi impor 35% pada tahun 2022. Upaya strategis ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus mendorong penguatan struktur industri manufaktur di dalam negeri.

“Strategi ini ditempuh guna merangsang pertumbuhan investasi di sektor industri substitusi impor dan peningkatan utilitas industri domestik,” tutur Menperin.

Kebijakan tersebut akan didukung dengan optimalisasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Agus menyampaikan, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, awalnya terdapat lima sektor yang menjadi prioritas pengembangan dalam kesiapan memasuki era industri 4.0. Namun, di tengah pandemi Covid-19, Kemenperin menambahkan dua sektor lagi untuk menopang perekonomian nasional.

“Ketujuh sektor potensial itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, kimia, alat kesehatan, serta farmasi,” sebutnya.

Aspirasi besarnya, dari kinerja tujuh sektor tersebut, Indonesia bisa menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

“Target yang ditetapkan itu masih realistis untuk diwujudkan,” tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini