Indo Tambangraya Jajaki Bisnis Energi Terbarukan, Batu Bara Ditinggalkan?

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 09 September 2021 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 09 278 2468698 indo-tambangraya-jajaki-bisnis-energi-terbarukan-batu-bara-ditinggalkan-IOpH3lXWeH.jpg Energi Baru dan Terbarukan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kembangkan ekspansi bisnisnya di sektor energi, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) jajaki bisnis energi baru terbarukan (EBT). Hal ini dilakukan tidak hanya dengan menjajaki tambang mineral berbasis energi hijau (green energy), namun juga masuk ke proyek panel atap tenaga surya.

Direktur Utama Indo Tambangraya Megah, Mulianto mengatakan, dalam 5-10 tahun mendatang, perseroan masih akan fokus pada bisnis batu bara. Namun demikian, perseroan sedang menjajaki tambang mineral berbasis clean tech atau green energy.

”Mineralnya banyak bisa bauksit, nikel, emas dan tambang mineral lain yang mendukung transformasi ke depan," ujarnya seperti dilansir Harian Neraca di Jakata, Kamis (9/9/2021).

Baca Juga: 23 Perusahaan Masuk Pipeline IPO di BEI, Ada Sektor Teknologi dan EBT

Selain menjajaki tambang mineral baru, Indo Tambangraya Megah juga mulai mencari mitra untuk instalasi panel atap tenaga surya. Mulianto mengungkapkan, perseroan sedang memfinalisasi rencana konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pelabuhan Melak. PLTS ini dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi untuk memastikan pasokan listrik yang memadai dan stabil.

Menurut Mulianto, dalam transformasi yang dicanangkan Indo Tambangraya, pengembangan bisnis batu bara tetap dilakukan. Karenanya, perseroan akan terus mengeksplorasi tambang batu bara untuk menambah cadangan yang ada. Adapun perseroan saat ini tengah mengembangkan tambang PT Graha Panca Karsa (GPK) di wilayah Kalimantan Timur.

Baca Juga: Idea Indonesia (IDEA) Melantai di Bursa, Jadi Emiten ke-38 pada 2021

Perseroan juga tengah mempersiapkan tambang PT Tepian Indah Sukses (TIS) dan PT Nusa Persada Resources (NPR) yang akan beroperasi pada tahun depan.

Sementara dari sisi produksi, perseroan menargetkan produksi batubara sebanyak 19-19,9 juta ton. Produksi ini berasal dari tambang Indominco Mandiri, Group Melak-Trubaindo dan Bharinto, Kitadin Embalut dan Tandung Mayang, serta Jorong.

Sedangkan penjualan ditargetkan 21,5 juta ton hingga 22,4 juta ton. Sejauh ini, Tiongkok masih menjadi penyumbang utama penjualan sebesar 30%, Indonesia 19%, Jepang 16% dan negara-negara lainnya.

Dari total penjualan tersebut, perusahaan telah mendapatkan 79% kontrak penjualan. Lalu, sebanyak 56% harga jualnya telah ditetapkan, 24% lagi mengacu pada indeks harga batu bara, sedangkan 21% belum terjual. Perseroan juga telah merealisasikan belanja modal sampai dengan semester I/2021 sebesar USD4,8 juta atau masih minim dari target alokasi capex tahun ini mencapai USD 40,5 juta.

Disebutkan, hampir 40% capex keluar untuk perbaikan atau overhaul peralatan tambang dari kontraktor utama ITMG, TRUST dan sisanya untuk pengembangan proyek yang sedang berjalan seperti NPR, TIS, dan perusahaan tambang GPK.

Saat ini, pasar ekspor tambang perseroan adalah China sekitar 30%, Jepang 16%, domestik 19%, dan sisanya pada pasar biasa ke Thailand, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Taiwan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini