Ekonomi RI Pulih, Tren Restrukturisasi Kredit Bank Melandai

Aditya Pratama, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 320 2486238 ekonomi-ri-pulih-tren-restrukturisasi-kredit-bank-melandai-mvhrR3sOmf.jpg Restrukturisasi Kredit Perbankan Melandai. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren restrukturisasi kredit di industri perbankan terus melandai. Hal ini seiring dengan membaiknya situasi pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia.

"Restrukturisasi kredit posisi terakhir mencapai Rp744,75 triliun di mana tren restrukturisasi kredit terus melandai dan bahkan kita harapkan angka terakhir sudah lebih rendah dari itu, kira-kira sudah mencapai Rp720 triliun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam acara pembukaan Capital Market Summit & Expo 2021, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: 4 Aturan Restrukturisasi Kredit, Cek Syarat yang Layak Dapat Keringanan

Wimboh menambahkan, hal tersebut tidak lepas dari sinergi kebijakan antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan selama masa pandemi ini. Dia menyorot penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019.

Baca Juga: KPR dan UMKM Bantu Penyaluran Kredit Perbankan

"Itu merupakan payung hukum kita semua dalam menangani pandemi Covid-19 bagi perekonomian kita dan sektor keuangan. Kebijakan-kebijakan tersebut juga kita lakukan dengan sangat hati-hati dan terintegrasi seluruh sektor," kata dia.

Selain itu, di tengah fluktuasi ekonomi global, Wimboh menyampaikan bahwa pihaknya juga terus mengamati kondisi domestik, khususnya terkait pemulihan mobilitas dan juga konsumsi masyarakat, di mana Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebanyak 55,07 persen berasal dari konsumsi rumah tangga sehingga strategi percepatan perekonomian ke depan harus difokuskan pada beberapa hal.

"Pertama keberhasilan penanganan pandemi melalui akselerasi vaksinasi nasional dan kesiapan fasilitas kesehatan sebagai langkah yang preventif dan antisipatif. Dan ini akan terus dilakukan," kata dia.

"Kedua, arah kebijakan fiskal dan moneter di negara maju dan normalisasi ini jadi perhatian kita sehingga kita harus bisa memitigasi dampak potensi negatif supaya kita bisa tetap resilience meski ada normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju. Ketiga, upaya mendorong permintaan domestik," sambungnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini