Dolar AS Lesu Tertekan Euro dan Poundsterling

Antara, Jurnalis · Jum'at 29 Oktober 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 29 320 2493480 dolar-as-lesu-tertekan-euro-dan-poundsterling-73NqLmFvbR.jpg Dolar Amerika Serikat. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Dolar AS lesu terhadap euro dan pound Inggris pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Para pedagang mata uang mencerna pergerakan di pasar suku bunga setelah Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menyampaikan rilis bank sentral. Selain itu, dolar AS tertekan karena laporan ekonomi AS yang menurun.

Euro menguat hampir 0,7% terhadap dolar dan menuju kenaikan harian terbesar sejak Mei. Euro diperdagangkan pada USD1,1681 di New York. Sementara itu, sterling naik hampir 0,4% ke level USD1,3788.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya menurun hampir 0,6% menjadi 93,3580.

Baca Juga: Dolar AS Naik Jelang Pertemuan Bank Sentral Eropa hingga Kanada

Pasar valuta asing menjadi bergejolak dengan komentar hawkish dari bank sentral Kanada (BoC) dan diikuti pada Kamis (28/10/2021) dengan tindakan oleh bank sentral Australia (RBA) dan komentar oleh ECB. Semuanya menjelang pertemuan Federal Reserve AS dan bank sentral Inggris (BoE) minggu depan.

"Pasar sangat terpicu dan sensitif terhadap kekhawatiran inflasi dan anggapan bahwa bank-bank sentral berada di belakang kurva," kata Ahli Strategi Mata Uang Senior TD Securities, Mazen Issa, dikutip dari Antara, Jumat (29/10/2021).

Faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan volatilitas, kata Issa, adalah mendekati akhir bulan ketika lebih banyak manajer investasi menyeimbangkan kembali portofolio mereka di seluruh mata uang.

Baca Juga: Dolar AS Naik Didorong Data Pekerja dan Properti

Karena bank-bank sentral masing-masing memetakan penyesuaian terhadap kebijakan moneter yang diadopsi selama pandemi, para pedagang mencoba memprediksi arah suku bunga dan imbal hasil yang disesuaikan dengan inflasi di seluruh mata uang.

Beberapa volatilitas mata uang kemungkinan merupakan tumpahan dari pasar suku bunga yang tidak nyaman. Kurva imbal hasil yang datar baru-baru ini telah menunjukkan kepada beberapa pihak bahwa bank-bank sentral harus mengorbankan dukungan untuk pemulihan pandemi dengan membiarkan suku bunga naik untuk mencoba menahan inflasi. Imbal hasil zona euro naik tajam pada Kamis (28/10/2021).

Sebelum Lagarde berbicara dalam konferensi pers, euro bergerak sedikit di tengah pernyataan kebijakan ECB. ECB telah berdiri, seperti yang diperkirakan, dengan rencananya untuk terus membeli obligasi dan menahan suku bunga.Beberapa orang melihat komentar Lagarde tidak begitu kuat dalam menegaskan posisi dovish ECB seperti yang diharapkan pasar.

"Presiden Lagarde gagal memberikan dorongan yang cukup terhadap ekspektasi pasar tentang kenaikan suku bunga tahun depan," tulis ekonom Rabobank dalam sebuah catatan.

Dolar AS pun semakin tertekan saat laporan pemerintah AS menunjukan bahwa Produk Domestik Bruto tumbuhnya hanya 2,0% sepanjang kuartal III-2021. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan tingkat pertumbuhan 2,7%

Data ekonomi AS yang lebih baru telah lebih kuat, sehingga laporan tersebut diperkirakan tidak terlalu berpengaruh terhadap dolar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini