Share

Tiang Kereta Cepat Dirobohkan, Pakar: Konstruksi Harus Oleh Ahlinya

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Senin 13 Desember 2021 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 320 2516114 tiang-kereta-cepat-dirobohkan-pakar-konstruksi-harus-oleh-ahlinya-yZ1bhLxrVC.jpg Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Okezone.com/KCIC)

JAKARTA - Perobohan tiang pancang Kereta Cepat Jakarta-Bandung menjadi sorotan. Menurut Pakar Management Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH) Manlian Ronald, kejadian tersebut karena lemahnya pengawasan.

Dirinya pun melihat kegagalan konstruksi serupa juga pernah terjadi sebelumnya, misalnya yang terjadi pada 2016 maupun 2017 di Pulomas atau Kampung Melayu, serta Tol Becak Kayu yang ambruk pada 2018.

Baca Juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bakal Dilengkapi dengan Fasilitas Kereta Ukur

"Pertama saya mencermati kegagalan pada waktun tier itu dengan alat konstruksi yang gagal itu saya menyebutnya sebagai kegagalan procurement System proses pengadaan material dan bahan di lapangan," ujarnya kepada MNC Portal Minggu (12/12/2021).

Selanjutnya, insiden tersebut sebenarnya tidak akan terjadi ketika adanya pengawas dan operator profesional yang memiliki sertifikat dalam proyek tersebut.

Baca Juga: Pembangunan Ulang Tiang Kereta Cepat Jakarta-Bandung, KCIC: Biaya Ditanggung Kontraktor

"Jangan cuma operator pencabutan, karena dia harus mampu mengukur prestisinya sehingga tidak mengalami kegagalan. Jadi seluruh proses konstruksi harus dilakukan oleh ahlinya, ahli perancang, ahli pembangunnya dan juga ahli operatornya, karena kalau dilakukan oleh orang yang kurang tepat tidak bisa," sambungnya.

Ronald melihat, insiden perubuhan tiang beton yang sempat menimpa eskavator minim pengawasan.

"Proses pengadaan material dan bahan harus disetujui oleh semua pihak sehingga bisa diawasi dengan ketat, saya lihat itu pengawasannya lemah," tambah Ronald.

Sementara itu, Ronald menilai, konsultan pengawas, konsultasi PMCM (Program and Construction Management) atau dari dari sisi owner, mesti ikut mengawasi pembangunan.

"Oke kita tarik, oke kita tarik atau geser, itu harus ada komando, nah yang mengomandoi itu siapa? Kegagalan 2016 dan 2017 waktu di Pulo mas, Kampung Melayu, sama itu, tapi tidak disalahkan juga operatornya. Operatornya benar, komandonya gak benar juga masalah," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini