Share

Penciutan Wilayah Tambang, BYAN Emiten Low Tuck Kwong Gugat Menteri Investasi ke PTUN

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Selasa 12 April 2022 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 12 278 2577571 penciutan-wilayah-tambang-byan-emiten-low-tuck-kwong-gugat-menteri-investasi-ke-ptun-ghoKTG8OFo.jpeg Emiten BYAN (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA - PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melayangkan gugatan terhadap Menteri Investasi/ kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik  Indonesia ke Pengadilan Tata Usaha Negera (PTUN) Jakarta pada tanggal 8 April 2022.

Direktur Utama BYAN, Dato Low Tuck Kwong d menyatakan, gugatan itu terkait  penciutan lima Wilayah Usaha Pertambangan (WIUP) milik lima anak usaha BYAN, yakni PT Bara Sejati, PT Cahaya Alam, PT Dermaga Energi, PT Orkida Makmur dan PT Sumber API.

”Ke lima anak usaha tersebu belum dapat atau terhambat untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya,” tulis Low Tuck Wong dikutip Harian Neraca, Selasa (12/4/2022).

Untuk diketahui, dalam surat keputusan BKPM telah mengurangi WIUP anak usaha BYAN, Bara Sejati dari 2,981 hektar menjadi 2.903 hektar. Serupa, WIUP tahap operasi produksi Cahaya Alam berkurang dari 3.457 hektar menjadi 3.193 hektar. Senada, WIUP tahap eksplorasi Dermaga Energi berkurang dari 3.784 hektar menjadi 3.120 hektar.

Senasib, WIUP tahap eksplorasi Orkida Makmur berkurang dari 1,061 hektar menjadi 310 hektar dan WIUP tahap eksplorasi Sumber Api berkurang dari 2.364 hektar menjadi Rp1.915 hektar.

Dalam surat keputusan BKPM itu dijelaskan, penataan WIUP tumpang tindih dengan milik PT Senyiur Sukses Pratama sebagai buntut dari Putusan PK Mahkamah Agung RI Nomor 12 PK/TUN/2019 tanggal 21 Februari 2019 terkait sengketa tumpang tindih antara Senyiur Sukses Pratama dengan kepala Perizinan dan Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalimantan Timur.

Sebelumnya, perseroan beserta anak usahanya mengungkapkan, potensi kehilangan pendapatan sebesar US$ 260 juta atau setara dengan Rp 3,7 triliun. Hal ini ditengarai karena kebijakan pemerintah yang melarang untuk mengekspor batu bara atau emas hitam.

Di mana BYAN dan anak usahanya yakni PT Bara Tabang, PT Fajar Sakti Prima, PT Firman Ketaun Perkasa dan PT Teguh Sinarabadi, PT Wahana Baratama mining telah mengumumkan keadaan kahar pada 13 Januari 2022.

Pengumuman tersebut berisi ketidakmampuan perseroan dan anak usahanya dalam memenuhi kewajiban pengiriman batu bara sampai degan 31 Januari 2022 seiring dengan adanya kebijakan larangan ekspor batu bara. Perseroan akan kehilangan pendapatan dan harus melakukan negosiasi untuk penjadwalan pengiriman ulang.

Di tahun 2021, BYAN mencatatkan peningkatan pendapatan hinga 104% menjadi USD2,85 miliar di 2021 atau setara Rp40,69 triliun (kurs Jisdor Rp14.278 per saham 31 Desember 2021) dari pada pendapatan pada 2020 sebesar USD1,39 miliar.

Pendapatan perseroan 99,75% ditopang sektor batu bara ke pihak ketiga sebesar USD2,64 miliar pada 2021 atau meningkat 50,5% dari USD1,32 miliar pada tahun sebelumnya.

Adapun, laba bersih Bayan Resources juga ikut meningkat dari USD344,45 juta pada 2020, menjadi USD1,26 miliar atau setara dengan Rp18,07 triliun pada 2021 atau meningkat 72,79% pada 2021.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini