Share

Sri Mulyani Tegaskan Nasib RI Tak Akan seperti Sri Lanka: Utang Kita Justru Turun

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 21 April 2022 12:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 21 320 2582778 sri-mulyani-tegaskan-nasib-ri-tak-akan-seperti-sri-lanka-utang-kita-justru-turun-WrvdVLMXHx.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani.(Foto: Okezone.com/KBUMN)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan memastikan bahwa Indonesia tidak akan bernasib seperti Sri Lanka. Dia menilai bahwa kondisi Indonesia saat ini jauh berbeda dengan situasi Sri Lanka yang menghadapi krisis utang.

"Pembiayaan utang Indonesia justru menurun dari tahun lalu. Hingga Maret 2022, pembiayaan utang dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) mencapai Rp149,6 triliun," ujar Sri dalam konferensi pers APBN KITA, dikutip Kamis (21/4/2022).

Baca Juga: Pria yang Bisa Lunasi Utang RI Hampir Rp7.000 Triliun, Cek 5 Faktanya

Angka ini terdiri dari penerbitan surat berharga negara (SBN) Rp133,6 triliun dan pinjaman Rp16 triliun. Total pembiayaan utang itu menurun 55,6% dari posisi Maret 2021, yang pembiayaannya sebesar Rp336,9 triliun.

"Penyesuaian strategi pembiayaan ini terjadi dengan penurunan target lelang SBN, pergeseran global bonds, dan sejumlah strategi lainnya. Hal ini kemudian menunjukkan bahwa kondisi Indonesia berbeda dengan Sri Lanka, yang saat ini mengalami krisis akibat utang," ucap Sri.

Baca Juga: Utang Pemerintah Nyaris Rp7.000 Triliun, Sri Mulyani Ungkap Bahayanya jika Tak Ngutang

Dia menyebutkan, memang kondisi utang Indonesia sering kali dibandingkan dengan kondisi Sri Lanka, salah satu penyebabnya adalah adanya utang terhadap China.

"Pembiayaan kita akan kita usahakan secara sangat prudent, sehingga banyak yang sering kemudian menanyakan kondisi seperti suatu negara, Sri Lanka dibandingkan dengan Indonesia. Dalam hal ini kita melihat kondisi APBN Indonesia jauh sangat berbeda dengan situasi yang dihadapi oleh negara seperti Sri Lanka," kata dia.

Sri mengakui, memang kondisi pasar SBN dan pasar uang cenderung tertekan oleh inflasi, dampak konflik geopolitik, dan capital outflow. Kendati kondisi tersebut, dia menilai Indonesia mampu menciptakan ketahanan APBN dengan kondisi kas yang cukup.

"Pasar keuangan Indonesia yang volatile tidak harus dipaksa untuk melakukan pembiayaan APBN. Ini adalah strategi yang sangat pas dan sesuai, sehingga APBN mendapatkan reputasi dan kredibilitas yang baik, terutama kalau kita lihat baik para investor ritel maupun besar institusionalnya mereka semuanya memiliki kepercayaan, rating agency juga memberikan konfirmasi. Jadi ini adalah salah satu tren perbaikan dan penguatan APBN yang harus terus kita jaga," pungkas Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini