Share

Laba MNC Energy Investments (IATA) Meroket Ditopang Kenaikan Harga Batu Bara

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Kamis 08 September 2022 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 08 278 2663130 laba-mnc-energy-investments-iata-meroket-ditopang-kenaikan-harga-batu-bara-kV5z69CRCm.jpg Laba IATA meroket ditopang harga batu bara (Foto: Freepik)

JAKARTA – Laba PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) meroket ditopang kenaikan harga batu bara. IATA melaporkan peningkatan antara semester I 2022 dan Semester I 2021 menggunakan 2 metode.

Yang pertama menggunakan jumlah aktual IATA per semester I 2021, sebelum konsolidasi PT Bhakti Coal Resources (BCR) dan yang kedua sesuai dengan PSAK 38 DK24 yang mengharuskan laporan keuangan disajikan secara proforma setelah BCR dikonsolidasikan.

Berdasarkan hasil aktual semester I 2021, perseroan melaporkan peningkatan pendapatan usaha sebesar 1.734,35% dari USD4,61 juta pada semester I 2021 menjadi USD84,50 juta pada semester I 2022. Demikian pula, EBITDA Perseroan tumbuh dari USD545 ribu pada semester I 2021 menjadi USD44,72 juta pada semester I 2022 atau sekitar 8.098,60%.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Kamis (8/9/2022), laba bersih IATA juga tumbuh secara signifikan dari negatif USD1,70 juta menjadi positif USD32,19 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh permintaan tinggi untuk sumber daya energi seperti batu bara sebagai akibat dari negara-negara yang bergantung pada minyak dan gas berebut untuk mencari alternatif setelah mengalami kesulitan dalam mengamankan pasokan.

Dibandingkan dengan semester yang sama pada tahun 2021, pendapatan usaha meningkat tajam sebesar 254,36% atau USD84,50 juta pada semester I 2022 dari USD23,85 juta semester I 2021. Kenaikan juga dapat dilihat dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu, dari USD13,63 juta di kuartal II 2021 menjadi USD44,11 juta di kuartal II 2022 atau sebesar 223,61%.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Perseroan berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi batu bara, yang mulai membuahkan hasil pada peningkatan laba bersih menjadi USD32,19 juta pada H1-2022, atau meningkat 735,49% dibandingkan dengan USD3,85 juta pada semester I 2021. Laba bersih naik 335,55% dari USD3,63 juta pada kuartal II 2021 menjadi USD15,80 juta pada kuartal II 2022.

Keuntungan yang dibukukan Perseroan berasal dari anak usaha BCR yaitu PT Putra Muba Coal (PMC) dan PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC), yang masing-masing menargetkan produksi sebanyak 4,5 juta MT dan 1,8 juta MT untuk tahun 2022, meningkat dari 2 juta MT dan 590 ribu MT di 2021. Selain PMC dan BSPC, anak perusahaan BCR lainnya, PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) telah memulai produksi batu bara pada Juli 2022.

Memiliki salah satu area konsesi terbesar seluas 15 ribu hektar, perseroan yakin IBPE pada kuartal depan dan seterusnya akan memberikan kontribusi signifikan. IBPE ditargetkan memproduksi 500 ribu MT batu bara pada tahun 2022. Di samping itu, PT Arthaco Prima Energy (APE), juga ditargetkan untuk mulai produksi dalam tahun ini.

Perseroan sedang menjalankan aksi korporasi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) awal tahun ini. Perseroan berencana menerbitkan 14.840.555.748 saham yang dananya akan digunakan untuk pelunasan seluruh Surat Sanggup yang diterbitkan kepada PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) dalam rangka pengambilalihan BCR.

Selain itu, akan digunakan sebagai setoran modal kepada perusahaan anak yang akan digunakan untuk pengembangan usaha di bidang batubara dan migas dan modal kerja Perseroan. Pasca HMETD, BHIT akan memiliki kepemilikan maksimal 56,97% di IATA.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini