Share

Pengusaha Ngeluh Jagung Cepat Rusak karena Rantai Distribusi Lambat di Pelabuhan

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Jum'at 23 September 2022 10:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 320 2673382 pengusaha-ngeluh-jagung-cepat-rusak-karena-rantai-distribusi-lambat-di-pelabuhan-R06zrzpHOl.jpeg Distribusi yang lambat buat jagung cepat rusak (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Pengusaha mengeluhkan distribusi lambat di pelabuhan membuat jagung cepat rusak. Pengusaha mengungkap rantai distribusi dinilai masuk cukup memakan waktu khususnya di terjadi dipelabuhan dan ketika masuk musim panen.

Lambatnya proses loading barang membuat kualitas jagung menurun dan harga jualnya. Direktur PT Segar Agro Nusantara, Christian Chandra selaku pelaku usaha mengungkapkan sebetulnya mulai dari proses jagung panen sampai ke pengepul kecil juga sudah memakan waktu yang cukup lama.

Hal ini dikarenakan banyak tanaman yang ditanam di dataran tinggi. Chandra melihat dukungan infrastruktur masih belum cukup memadai.

"Karena banyak dari mereka yang mengangkut itu menggunakan motor, mereka bawa misal 5 karung, dibawa ke pengepul kecil, terus dibawa lagi ke gudang kami, itu dari sisi infrastruktur," ujar Chandra dalam diskusi virtual, Kamis (22/9/2022).

Selanjutnya dari pengepul ke gudang pabrik yang memakan waktu cukup lama, karena diantar melalui pelabuhan. Proses antre untuk muat barang di pelabuhan menurutnya bisa mencapai 3 minggu sendiri, baru barang tersebut bisa berlayar.

"Kemudian dari sisi pengepul ke gudang pabrik pakan, ini kita harus lihat infrastruktur di pelabuhan daerah, misal dari NTB, dari Gorontalo, kita tahu pelabuhan cukup banyak, tetapi secara proses loadingnya cukup lama, dan ketersediaan kapal terbatas," kata Chandra.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

"Jadi saat musim panen yang antre kapal itu bisa sampai 3 Minggu hingga satu bulan, jadi bisa dibayangkan, kapal sudah datang di pelabuhan, mereka 3 Minggu lagi baru bisa dimuat barangnya, karena ngantri, itu kan ongkos jalan terus," sambungnya.

Sehingga terjadi suatu kondisi yang cukup merugikan untuk para petani. Disatu sisi proses yang lama membuat kualitas menurun, sehingga harga jual juga berpengaruh, di sisi lain proses menunggu yang lama itu juga menggunakan ongkos tambahan.

"Otomatisasi harga ongkos transportasi menjadi mahal, belum lagi setelah sampai di gudang pabrik pakan ternyata beberapa ditolak karena kualitasnya menurun," kata Chandra.

"Ini suatu ekosistem yang harus sama-sama kita perbaiki terutama keterlibatan dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini