Share

Sri Mulyani: Harga BBM Naik 30% tapi Inflasi Hanya 5,9%

Michelle Natalia, MNC Portal · Jum'at 11 November 2022 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 11 320 2705351 sri-mulyani-harga-bbm-naik-30-tapi-inflasi-hanya-5-9-AwLzqUaUt9.jpg Sri Mulyani sebut inflasi RI masih terkendali (Foto: Instagram)

BALI - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkap laju inflasi di Indonesia masih terjaga. Bahkan saat pemerintah harus menaikan harga BBM demi menjaga fiskal tetap sehat, laju inflasi naik di bawah perkiraan pemerintah.

"Dan itu menjadi pilihan kebijakan. Dari situ bisa dilihat bahwa permintaan rumah tangga meningkat, tetapi di sisi lain kami harus membuat pilihan lain. Apakah kita harus menyerap semua shocknya, atau kita harus membiarkannya mengalir begitu saja? Jadi September lalu kami memutuskan untuk menaikkan harga BBM hingga 30%," ujar Sri dalam Bloomberg CEO Forum - G20 Side Event di Bali, Jumat (11/11/2022).

Saat menaikkan harga BBM sebesar 30%, Sri Mulyani berekspektasi bahwa inflasi akan naik menjadi 6,8%. Tapi, yang terjadi, inflasi hanya meningkat menjadi 5,9% dan sekarang 5,7%. Deflasi terjadi di September dan Oktober.

"Kenapa Indonesia bisa melakukannya? Karena koordinasi antara pemerintah pusat, dengan Presiden Jokowi mengamati akar inflasinya secara detail, dan pemerintah daerah hingga lokal," ungkap Sri.

Sri Mulyani pun menceritakan tentang apa yang dia diskusikan dengan para gubernur bank sentral dalam pertemuan G20 lalu di Washington DC.

"Kalau Anda semua dari kebijakan moneter menaikkan suku bunga karena Anda harus melakukannya, itu seperti halnya Anda menggunakan spektrum putih dari antibiotik, tentunya akan mempengaruhi seluruh badan dari ekonomi. Tapi kalau sumber inflasinya dari sisi suplai, Anda tidak bisa hanya menggunakan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasinya Anda harus melihat di sisi suplainya, itulah yang dilakukan Indonesia," papar Sri.

Follow Berita Okezone di Google News

Dia mengatakan hal ini tentunya baik. Buktinya, sisi konsumsi Indonesia masih cukup kuat di kuartal III-2022, pendapatan rumah tangga middle up juga memegang peran kuat dalam mendukung pemulihan.

"Kami juga sudah berdiskusi dengan DPR RI terkait defisit APBN 2023, dan kami berkomitmen untuk mengurangi defisit hingga ke 2,84%. Kami secara hati-hati mengkalibrasi, dan kami juga tidak sepenuhnya buta bahwa kondisi global akan benar-benar dinamis, kami harus terus bersiap untuk apapun, misal harga komoditas bisa menanjak tinggi tapi kemudian menurun kembali," pungkas Sri.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini