Kendati demikian, tingkat literasi pasar modal tercatat mengalami penyusutan dari 4,97% pada 2019 menjadi 4,11% pada 2022. Tingkat literasi tahun ini juga lebih rendah dibanding tahun 2016 sebesar 4,4%.
"Kita khawatir kalau literasinya tidak meningkat, tapi transaksinya justru meningkat. Investor ini juga biasanya pas rugi ribut, tapi kalau untung diam. Makanya kita butuh edukasi," kata Uriep.
Implementasi simplifikasi pembukaan rekening efek, memang memberikan dampak cukup besar bagi peningkatan jumlah investor pasar modal terlebih pada masa pandemi COVID-19. Hal itu terlihat dari peningkatan yang cukup signifikan pada 2020-2021, dengan pertumbuhan lebih dari 100 persen. Peningkatan jumlah investor sejak 2019 hingga 2021 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.
Industri reksadana sebagai penyumbang jumlah investor terbesar di pasar modal memperlihatkan tren peningkatan signifikan yaitu 36,04% menjadi 9,3 juta investor. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% merupakan investor dari selling agent financial technology (fintech), yang 99,9%nya merupakan investor individu lokal. Investor ritel juga mendominasi transaksi subscription dan redemption yang mencapai lebih dari 80%.
Reksadana pasar uang merupakan reksadana dengan jumlah investor terbanyak yaitu sebesar 2,47 juta investor, diikuti oleh reksadana pendapatan tetap dengan jumlah investor sebesar 934 ribu. Kemudahan dalam melakukan transaksi merupakan dampak dari peningkatan transaksi dan pertumbuhan investor reksa dana.
Dominasi investor lokal juga terlihat pada kepemilikan investor lokal di tiap jenis instrumen investasi pasar modal, baik saham maupun surat berharga lainnya yang tercatat pada sistem KSEI.
Saham sektor keuangan menempati posisi teratas dari sisi jumlah investor yaitu sebesar 939 ribu investor, diikuti oleh sektor infrastruktur yang dimiliki oleh 750 ribu investor.
(Taufik Fajar)