Tetapi toko penjual jasa semir sepatu seperti di stasiun Penn sudah lama menghilang di seluruh Amerika. Situasi tersebut diperparah oleh pandemi, kerja dari rumah, dan semakin populernya pakaian kerja yang lebih santai ketika akhirnya orang kembali ke kantor.
SC Johnson adalah produsen merek semir sepatu terbesar, Kiwi. Pada Januari, perusahaan itu mengatakan akan berhenti menjual semir di Inggris karena minimnya permintaan. Sementara ini, mereka masih menjual semir merek tersebut di Amerika.
Permintaan untuk reparasi sepatu, yang biasanya mencakup jasa semir, turun sekitar 23% antara 2013 dan 2023 menjadi USD307,4 juta, menurut firma riset pasar IBISWorld.
Pandemi juga telah menggerus penjualan semir. Penjualan pada 2022 turun 29% menjadi 27,3 juta unit dibandingkan pada 2019, menurut data Nielsen.
Nisan Khaimov dari Penn Station Shoe Repair and Shoe Shine mengatakan, sebelum pandemi kiosnya menyemir 80 hingga 100 sepatu setiap hari kerja. Sekarang antara 30 hingga 50 pada Selasa hingga Kamis. Jumlah itu jauh lebih kecil pada Senin dan Jumat. Kerja sebagian di kantor dan sebagian di rumah, kata Khaimov, merugikan bisnisnya.
“Sampai orang kembali bekerja, masalah-masalah ini tidak akan terpecahkan. Dan ini tidak baik untuk pemilik toko dan penyewa seperti kami. Jadi kami menunggu. Tetapi pada akhirnya semua akan kembali normal, kami berharap. Tetapi kapan? Kami tidak tahu,” jelasnya.
Meskipun bisnisnya sedang sulit, Khaimov tidak menaikkan tarif jasa semir sepatu. Tetap $8. Namun, pendapatan yang rendah memaksanya menggunakan tenaga kontrak. Tidak karyawan tetap yang penuh waktu.
"Keuntungan kami sedikit. Tetapi tujuan kami adalah membuat pelanggan senang, supaya mereka kembali lagi ke sini.”
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.