Sementara untuk PMDN, DKI Jakarta menempati posisi pertama dengan nilai Rp175,3 triliun (17,0 persen), diikuti Jawa Barat Rp149,8 triliun (14,5 persen), Jawa Timur Rp101,8 triliun (9,9 persen), Banten Rp73,2 triliun (7,1 persen), dan Kalimantan Timur Rp70,9 triliun (6,9 persen). Kalimantan Timur tetap menjadi magnet investasi domestik seiring pembangunan kawasan industri dan pengembangan wilayah Ibu Kota Nusantara.
Dari sisi sektor usaha, realisasi investasi terbesar masih didominasi sektor manufaktur dan logistik. Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya menempati posisi pertama dengan nilai Rp262,0 triliun (13,6 persen). Posisi kedua ditempati transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp211,0 triliun (10,9 persen), disusul pertambangan Rp199,6 triliun (10,3 persen), jasa lainnya Rp170,5 triliun (8,8 persen), serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp140,4 triliun (7,3 persen). Sementara sektor lainnya secara kumulatif menyumbang 53,2 persen dari total investasi.
Capaian investasi 2025 ini memperkuat sinyal bahwa strategi hilirisasi, pembangunan kawasan industri, serta perbaikan iklim usaha mulai memberikan dampak nyata, tidak hanya pada nilai investasi, tetapi juga terhadap penciptaan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi antarwilayah. Pemerintah menargetkan tren positif ini dapat terus berlanjut pada 2026 dengan fokus pada proyek industri bernilai tambah, energi, dan infrastruktur penunjang kawasan ekonomi baru.
(Feby Novalius)