Dia menjelaskan, Pertalite merupakan BBM bersubsidi langsung, harganya tetap diatur oleh pemerintah. Selisih antara harga keekonomian dan harga jual ditutup melalui mekanisme kompensasi kepada PT Pertamina (Persero). Ketika harga minyak dunia naik, nilai kompensasi pun ikut membesar.
Fabby menilai, penyesuaian harga tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan fiskal, tetapi juga untuk mengendalikan konsumsi BBM agar lebih efisien dan tepat sasaran.
Di sisi lain, dia mengingatkan pemerintah tetap perlu menyiapkan skema perlindungan bagi masyarakat rentan jika kebijakan kenaikan harga benar-benar diambil, guna meminimalkan dampak terhadap daya beli.
“Penyesuaian bisa dilakukan, tetapi harus diikuti dengan kebijakan kompensasi sosial yang tepat agar kelompok rentan tetap terlindungi,” pungkasnya.
Di sisi lain, Pemerintah memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar subsidi tidak naik meski harga minyak dunia tembus USD100 per barel. Namun, kini pemerintah mulai mengambil kebijakan penghematan BBM melalui Work From Home (WFH) sehari tiap pekan. Kebijakan WFH sudah diputuskan pemerintah untuk menghemat BBM.
Sementara, untuk BBM non subsidi seperti Pertamax cs biasanya akan mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Tidak menutup kemungkinan, harga BBM non subsidi akan naik pada 1 April 2026. Harga BBM non subsidi terbaru akan diumumkan dan berlaku setiap awal bulan.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.