JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diprediksi masih akan bergerak dalam zona merah seiring dengan adanya penyesuaian komposisi kepemilikan saham yang tinggi sesuai metodologi MSCI. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dengan rentang Support 6.700 dan Resistance 7.250.
Sebelumnya, IHSG menutup perdagangan pekan lalu di level 7.026, atau mengalami pelemahan sebesar 0,99 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Tekanan ini diperparah dengan aksi jual bersih (outflow) investor asing yang mencapai Rp2,8 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengungkapkan bahwa lesunya pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi sentimen ketidakpastian global dan kebijakan dalam negeri. Dari sisi global, ancaman serangan militer Amerika Serikat ke Iran di bawah pernyataan Donald Trump memicu kepanikan investor.
"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," jelas David dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati pengumuman Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait peningkatan bauran biodiesel menjadi 50 persen (B50) mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan ini dikhawatirkan akan menyerap pasokan CPO secara berlebihan untuk energi, yang berisiko mengerek harga minyak goreng dan menekan daya beli masyarakat. Hal ini memberikan sentimen negatif, khususnya bagi sektor Consumer Goods.
Memasuki pekan 6-10 April 2026, investor diminta waspada terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah dan harga minyak mentah. Kombinasi keduanya dinilai menjadi beban ganda bagi ketahanan ekonomi nasional.