"Paling kita ya misalkan ada sampingan yang lain buat kita selain ojol, misalkan, selain ngojek, ya kita ambil, Pak, gitu kan. Tapi kalau gak ada yaitu ya, mau gak mau kita siasatin sendiri juga dengan cara lain," sebutnya.
Syahrul pun berharap pemerintah dapat menahan laju kenaikan harga BBM di masa mendatang agar tidak semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
"Buat kita ya, jangan terlalu tinggi lah, jangan terlalu dinaikin, karena banyak masyarakat di bawah, khususnya kita para ojol gitu kan, atau yang di bawah ojol gitu kan, kalau bisa jangan naik," tutupnya.
Keluhan serupa disampaikan Ijong, warga Kebayoran yang mengaku sesekali menggunakan Pertamax meski sehari-hari lebih sering memakai Pertalite. Ia menilai kenaikan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter terlalu drastis dan memberatkan masyarakat.
"Harusnya naiknya perlahan dulu. Kayak Rp1.000, Rp2.000. Cuma kalau langsung ke Rp16.000 sih kalau saya rasa sih ya rakyat juga (berat)," ujarnya.