Lebih jauh, mantan Asisten Gubernur BI Bidang Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial ini menggarisbawahi bahwa momentum peluncuran ETF Emas memuat tiga pesan strategis dari pemerintah.
Di tengah ketidakpastian global, kinerja pasar modal nasional dinilai cukup solid. Sepanjang semester I-2026, penghimpunan dana di pasar modal berhasil menembus lebih dari Rp125 triliun dengan basis investor melampaui 28 juta SID.
Namun, Juda mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tidak berpuas diri dan terus memperluas basis pemodal, menambah ragam instrumen, memperkuat likuiditas, serta memperkokoh tata kelola.
Pemerintah turut mendukung Peta Jalan Reformasi Integritas Pasar Modal yang diusung OJK dan BI untuk menciptakan pasar yang transparan dan akuntabel.
Peluncuran ETF Emas menjadi tonggak baru yang menghubungkan kegiatan usaha bank emas (bullion), yang telah diinisiasi sejak 2023, dengan ekosistem pasar modal. Integrasi ini diharapkan mampu mengubah karakteristik emas dari sekadar aset simpanan pasif menjadi instrumen finansial yang lebih produktif dan terhubung dengan pasar keuangan yang lebih luas.
“Pasar bullion akan dapat terus berkembang, pasar modal akan juga semakin dalam. Pada akhirnya masyarakat akan bisa memperoleh alternatif investasi yang semakin beragam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya,” kata Juda.