JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan hasil evaluasi dari pelaksanaan uji coba pemanfaatan CNG 3 kilogram (kg) yang akan menggantikan LPG 3 kg.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, pengujian teknis penggunaan tabung CNG 3 kg tersebut saat ini tengah ditelaah secara mendalam oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Bersamaan dengan pengkajian teknis tersebut, Lemigas dan Kementerian ESDM juga sedang merampungkan perumusan skema tata niaga pendistribusiannya ke pasar.
Kendati belum membeberkan kepastian tanggal rilisnya, Yuliot memastikan hasil evaluasi komprehensif atas produk alternatif pengganti bahan bakar gas bersubsidi ini bakal segera disampaikan langsung oleh Menteri ESDM ke hadapan publik.
“Ini kan lagi dievaluasi oleh Lemigas, itu kan dari tabung kemudian itu proses CNG sampai ke tabung, itu kan juga proses bisnisnya kan lagi diselesaikan oleh Lemigas. Jadi dalam waktu dekat ini hasil evaluasi itu akan disampaikan langsung sama Pak Menko,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).
Sebelumnya pada Mei lalu, Menteri ESDM Bahlil sempat menerangkan bahwa program konversi dari gas minyak cair (LPG) menuju CNG tabung 3 kg telah memasuki fase uji coba lapangan, yang diproyeksikan tuntas paling lambat dalam kurun tiga bulan berikutnya.
Langkah peralihan ke bahan bakar CNG dipersiapkan sebagai jurus strategis pemerintah untuk mengikis ketergantungan impor bahan baku energi, yang selama ini menyerap jutaan ton pasokan LPG dari luar negeri. Ketersediaan sumber daya alam domestik yang menjadi basis produksi CNG dinilai sangat melimpah di berbagai wilayah Tanah Air.
"Ketika gejolak geopolitik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada, tapi kan kita tergantung pada global. Maka kami merumuskan alternatif lain. Apalagi kami baru menemukan gas di Kalimantan Timur. Nah ini sebagian besar kami bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5).
Kebutuhan diversifikasi energi ini kian krusial mengingat angka konsumsi LPG nasional saat ini telah menembus 8,6 juta ton per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, fasilitas pengolahan di dalam negeri hanya mampu memproduksi sekitar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton, sedangkan mayoritas sisanya harus dipenuhi melalui jalur impor.
Di sisi lain, seluruh pasokan bahan baku CNG dapat dipenuhi secara mandiri oleh industri domestik melalui pemanfaatan gas cair C1 dan C2 yang dipadatkan (compress) hingga mencapai tingkat tekanan tertentu. Gas cair C1 dan C2 merupakan komponen gas alam (natural gas) yang didominasi oleh senyawa metana (C1) serta etana (C2) yang telah dicairkan demi menunjang kemudahan proses penyimpanan dan mobilitas transportasi.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.