Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) sebesar 3,4% pada kuartal III 2026, disertai inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) sebesar 3,6% secara tahunan (year-on-year/YoY), memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Kondisi tersebut terjadi di tengah kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral global. Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, Bank Sentral Eropa (ECB) di level 2,65%, serta Bank Sentral Jepang (BOJ) di posisi 1,25%.
Sementara itu, investor global juga mencermati penyelenggaraan pemilihan umum paruh waktu (midterm election) AS pada 3 November.
Di pasar komoditas, risiko konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mencapai USD104,12 per barel, sedangkan Brent menyentuh USD113,43 per barel.
Sebaliknya, harga emas melemah ke USD3.875 per troy ounce. Sementara itu, harga batu bara menguat ke USD152,45 per ton.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap pasar saham diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah ke posisi Rp18.147 per dolar AS serta kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hingga 7,66%.
Pasar juga dibayangi kekhawatiran mengenai potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI.