Meski demikian, sejumlah sentimen positif masih menjadi penopang pasar. Di antaranya keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market, proyeksi kenaikan pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi 4,9%, rencana paket stimulus ekonomi 2027, serta perpanjangan relaksasi kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa RUPS oleh OJK hingga Juni 2027.
Brigita menilai, kebijakan stimulus tersebut berpotensi menopang daya beli dan konsumsi domestik. Dampaknya diharapkan dapat dirasakan oleh sektor konsumer maupun sektor lain yang sensitif terhadap pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi, termasuk perbankan dan properti.
"Kebijakan ini berpotensi menopang daya beli dan konsumsi domestik, dengan implikasi positif bagi sektor konsumer serta sektor-sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi, termasuk perbankan dan properti. Namun, efektivitas stimulus tetap bergantung pada realisasi program serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal," jelas Brigita.
Dengan demikian, menurut Brigita, pemulihan kepercayaan investor membutuhkan stabilitas makroekonomi serta penegakan tata kelola pasar modal yang konsisten.
"Di tengah tekanan pada pasar saham, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih obligasi pemerintah sebesar USD509 juta sepanjang Oktober. Secara keseluruhan, kebijakan stimulus dan reformasi pasar berpotensi menjadi penyangga sentimen domestik. Namun, pemulihan kepercayaan investor tetap membutuhkan stabilitas rupiah, konsistensi kebijakan fiskal, serta perbaikan transparansi dan tata kelola pasar modal,” pungkas Brigita.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.