Lolos dari "Jerat" OJK, Yusuf Mansyur Buka Peluang Kerjasama dengan Grab

Ulfa Arieza, Jurnalis · Senin 04 Desember 2017 18:11 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 04 320 1824974 lolos-dari-jerat-ojk-yusuf-mansyur-buka-peluang-kerjasama-dengan-grab-5X2pgXmgW5.jpg Uztad Yusuf Mansur. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sempat terkendala dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Paytren Asset Management (PAM) besutan Yusuf Mansur secara resmi telah diluncurkan. Tidak berhenti dangan membentuk manajer investasi, ustad kondang ini makin semangat melebarkan sayap bisnisnya.

Yusuf Mansur mengungkapkan, dirinya membuka kerjasama selebar-lebarnya dengan berbagai pihak. Tahun 2018, baginya adalah tahun kerjasama baik dari dalam maupun luar negeri, untuk meningkatkan volume penggunaan dan transaksi.

Termasuk, peluang kerjasama dengan salah satu perusahaan transportasi online asal Malaysia, Grab. Jika kerjasama ini menjadi niscaya, maka akan dilakukan melalui Paytren Payment Gateway.

"Namanya juga kerjasama tentu akan kita lakukan seluas-luasnya dengan multipihak bila dimungkinkan bisa dilakukan dengan Grab," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (4/12/2017).

Baca Juga: Buka Perdagangan di BEI, Yusuf Mansur Bentuk Manajer Investasi Syariah Pertama di Indonesia

Yusuf Mansyur melanjutkan, pasar syariah di luar negeri masih membuka banak peluang untuk Paytren Payment Gateway. Apalagi, banyak masyarakat Indonesia yan bekerja d Malaysia, Singapura, dan Hong Kong. Sehingga, Paytren Payment Gateway siap masuk ke pasar Asia Tenggara, Eropa, dan Inggris.

"Internasional muslim payment belum ada padahal di lndonesia sendiri jumlah muslim dahsyat. Sehingga kalau kita membidik itu akan menjadi kekhasan sendiri," jelas dia.

Direktur Utama PAM Ayu Widuri menyatakan, tahun depan PAM siap meluncurkan produk baru yaitu reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) Syariah serta Dana Investasi Real Estate (DIRE) Syariah.

Baca Juga: Yusuf Mansyur Incar Rp500 Miliar dari Manajer Investasi Syariah Pertama

Ayu menjelaskan sekilas tentang RDPT Syariah, di mana setiap investor yang masuk RDPT syariah akan mendapatkan pengembangan sama halnya dengan membeli reksa dana saham syariah namun, aset dasar atau underlying berasal dari pendapatan proyek - proyek.

"Perusahaaan harus syariah bisnisnya juga pastinya syariah. Dari hulu hilir pengelolaan syariah jdi kita akan pilih project yang bisnisnya syariah. Dari sisi keuangan screeningnya sama kayak daftar efek syariah dia punya modal harus lebh kecil dari aset," jelas dia.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini