Penenggelaman Kapal Diminta Berhenti, Rizal Ramli: Masa Mau Balik ke Sistem Lama?

Anisa Anindita, Jurnalis · Rabu 10 Januari 2018 22:28 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 10 320 1843209 penenggelaman-kapal-diminta-berhenti-rizal-ramli-masa-mau-balik-ke-sistem-lama-EWTKcq7bgw.jpg Foto: (Anisa Anindita Okezone)

JAKARTA – Larangan bagi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menenggelamkan kapal menuai pro dan kontra. Beberapa pihak berpendapat Menteri Susi berjasa karena mengusir pencuri dari laut Indonesia.

Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli mempertanyakan tujuan dari larangan penenggelaman kapal. Menurutnya, dulu banyak pejabat yang menutupi kejahatan kapal asing yang mencuri ikan di laut Indonesia.

Baca Juga: 1 Kapal Ditenggelamkan Seharga Rp1,6 Miliar, Pemerintah Sudah Rugi Rp380 Miliar

"Motifnya ini benar-benar atau hanya untuk melindungi kapal-kapal asing yang besar. Banyak dulu pejabat elite di Indonesia jadi frontman dari pencurian kapal-kapal asing, " ungkap Rizal saat menjadi pembicara di Diskusi Publik yang bertema "Prospek Ekonomi dan Politik 2018" di Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Rizal berpendapat, bila hukuman bagi kapal asing itu dihentikan, Indonesia akan kembali ke zaman di mana  pencuri ikan leluasa. Hal ini tentu disayangkan, mengingat jumlah produksi ikan lebih baik setelah adanya hukuman penenggelaman kapal.

Baca Juga: Jokowi: Penenggelaman Kapal Bentuk Kita Tak Main-Main terhadap Pencurian!

"Ibu Susi itu berjasa soal itu,  masa mau dibalikin lagi ke sistem lama? Tapi kalau memang masalahnya murni soal ekspor,  ya kita naiki soal ekspor. Caranya seperti yang kami sampaikan tadi,  pindahkan puluhan ribu kapal ikan kita yang di atas 30 ton kita geser ke Natuna," jelas Ramli.

Lebih jauh Rizal meyakini, ekspor bisa membaik kalau pemerintah mampu  mengubah sistem penjualan ikan. Misalnya dengan membuat pasar yang besar dan bagus di Natuna. "Jadi orang dari Hong Kong, dari Taiwan, dari Singapura,  dan dari Jepang beli di pasar ikan di Natuna," tambah Ramli.

Baca Juga: Pengusaha Sebut Penenggelaman Kapal Asing Pencuri Ikan Dilematis

Dengan demikian, rakyat yang berada di dalam pulau Jawa, seperti Pantura akan merasa senang. Pasalnya tidak akan ada lagi persaingan dengan pemilik kapal-kapal besar.

"Jadi ini win win solution sekaligus untuk memperkuat kedaulatan Republik Indonesia di Natuna. Makanya kami waktu menjadi Kemenko, kami ganti nama Laut Cina Selatan menjadi Laut Natuna Utara. Wong daerah kita,  ada memang yang tak setuju tapi itu kan laut kita,  terserah kita dong mau kasih nama apa," tungkas Ramli.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini