nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Operasi Pasar Jadi Senjata Bulog Tekan Harga Beras

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 08 Februari 2018 11:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 08 320 1856459 operasi-pasar-jadi-senjata-bulog-tekan-harga-beras-iRhhCHAHca.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Perum Bulog memastikan akan terus melakukan operasi pasar (OP) untuk menstabilkan harga beras di pasaran. Hal ini dilakukan, mengingat harga beras di pasaran sejak operasi pasar dilakukan pada September 2017 masih belum turun signifikan.

”Di beberapa daerah memang sudah turun, meski kecil penurunannya karena sudah memasuki musim panen. Makanya, kita akan terus melakukan operasi pasar karena harga belum stabil,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti di Jakarta.

  Baca juga: Pasokan Beras Menyusut, Lahan Pertanian pun Berubah Jadi Hunian

Berdasarkan pantauan di situs Kementerian Perdagangan (Ke mendag) harga beras jenis medium kemarin berada masih di level Rp11.000 per kg, di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah Rp9.450 per kg. Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras me dium di pasaran melonjak tinggi, bahkan sampai mencapai di atas Rp12.000 per kg.

Kenaikan harga tersebut terjadi aki bat pasokan dari daerah peng hasil beras berkurang. Djarot menambahkan, untuk menjaga stabilitas harga beras dan menjaga cadangan nasional, pemerintah telah menunjuk Perum Bulog melakukan impor sebanyak 500.000 ton. Dari jumlah tersebut, untuk tahap awal akan masuk sebanyak 5.500 ton dari Thailand dan diperkirakan sampai di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, pada Jumat (9/2).

Terkait operasi pasar, Djarot mengatakan, Bulog telah melakukannya sejak September 2017 sebanyak 20.000 ton, kemudian De sember 2017 (32.000 ton), Ja nuari 2018 (161.000 ton). Menurut Djarot, saat ini cadangan beras Bulog hanya sekitar 678.000 ton, setelah dikurangi beberapa kali operasi pasar.

  Baca juga: Harga Beras di Pasar Induk Cipinang Turun Rp625/Kg

Jum lah tersebut dirasa masih kurang karena idealnya cadangan beras di atas 1,5 juta ton. ”Kalau memperhitungkan perjalanan kapal, bongkar muat, dan distribusi ke gudang, cadangan kita harus di atas itu,” kata Djarot.

 

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, saat ini harga beras di pasaran sudah mulai turun antara Rp400-700 per kg. Hal ini karena di beberapa sentra produksi beras sudah mulai panen.

Meski demikian, ujar Moeldoko, pemerintah tetap akan melakukan impor beras untuk menjaga cadangan nasional. ”Impor itu untuk melindungi petani juga. Beras impor nanti yang masuk ke sini langsung disimpan di gudang tidak langsung ke pasar. Ini akan dikawal oleh Satgas Pangan,” ujarnya.

 Baca juga: Menko Darmin: Kita Tidak Ingin Harga Beras Jadi Liar

Menurut dia, impor beras dilakukan semata-mata untuk mem perkuat cadangan beras na sional demi stabilnya harga di ma syarakat. Menurut data yang dimilikinya, kenaikan harga beras beberapa waktu lalu ter jadi tidak di tingkat eceran, tetapi di tingkat petani akibat melesetnya waktu panen, hama, dan gangguan cuaca.

”Makanya ada impor karena pemerintah tidak ingin meng ambil risiko karena panen raya diperkirakan baru akan terjadi pada Maret-April mendatang,” ujar dia.

Moeldoko menambahkan, rencana impor 500.000 ton itu setara dengan seperlima kebutuhan konsumsi beras masyarakat selama satu bulan yang mencapai 2,4 juta ton.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Bulog Siti Kuwati mengatakan, impor beras yang dilakukan Bulog didasarkan atas Surat Persetujuan Impor Beras dari Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag RI Nomor 04.PI-11.18.0018 pada 15 Januari 2018 perihal Persetujuan Impor Beras.

Perum Bulog diizinkan mengimpor beras untuk keperluan umum dengan bro ken di atas 5% sampai dengan 25% dan keperluan lain dengan broken 0-5% dengan jum lah sampai dengan 500.000 ton.

Namun, hingga awal pekan ini, impor beras yang telah ditandatangani kontraknya baru mencapai 281.000 ton yang akan dipasok oleh enam perusahaan dari Vietnam, Thailand, dan India. Dari jumlah tersebut, impor beras dari Vietnam sebanyak 141.000 ton, Thailand 120.000 ton, dan India 20.000 ton.

”Sebetulnya terdapat delapan perusahaan yang lolos taha an negosiasi harga, tapi karena pertimbangan keterbatasan waktu izin impor, ada dua perusahaan dari Pakistan tidak menandatangani kontrak,” ujarnya. (Yanto Kusdiantono/Oktiani Endarwati)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini