nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sri Mulyani Beberkan Pentingnya Peran Keuangan Syariah RI

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Minggu 14 Oktober 2018 12:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 14 20 1963788 sri-mulyani-beberkan-pentingnya-peran-keuangan-syariah-ri-7Wizz1eyy9.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani di Pertemuan IMF-World Bank (Foto: Heru/Okezone)

BALI - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menkeu) memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengoptimalkan peran instrumen keuangan Islam saat menyampaikan keynote speech pada seminar Mainstreaming Islamic Finance into Global Initiatives pada ajang Pertemuan Tahunan IMF-World Bank.

Di Indonesia, instrumen keuangan Islam sudah menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Menkeu menambahkan bahwa surat berharga syariah negara retail atau sukuk misalnya, saat ini menjadi instrumen terpenting pemerintah.

Salah satunya untuk pengembangan keuangan syariah. Dalam konteks global dimana kondisi ekonomi dunia yang masih belum menentu, peran keuangan Islam menjadi semakin dibutuhkan.

Baca Juga: Rangkaian Acara di Hari Terakhir Pertemuan IMF-World Bank 2018

“Untuk menjawab tantangan global, industri keuangan Islam menawarkan peluang besar dalam mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan. Hal ini tentu relevan dengan program yang tiga tahun lalu dicanangkan Bank Dunia, yakni Sustainable Development Goals atau SDGs,” ujar Menkeu yang baru saja mendapatkan gelar “Finance Minister of The Year” dari majalah terkemuka Global Markets.

Lebih jauh, Sri Mulyani mengatakan, Indonesia tidak hanya fokus pada pengembangan industri keuangan Islam yang bersifat komersial, tapi juga pada keuangan Islam yang bersifat sosial.

“Ini adalah instrumen efektif untuk mengurangi kemiskian dan mengatasi ketidaksetaraan, dengan cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah, dan tentu membuka akses pada dunia bisnis lanjut Menkeu.

Karena itu, Indonesia melalui Bank Indonesia yang bekerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB) tengah mengembangkan Zakat Core Principles dan Waqf Core Principles.

“Integrasi antara sukuk dan wakaf adalah inovasi yang menarik dalam keuangan Islam,” ujar Menkeu.

Baca Juga: Menko Luhut: Anggaran Pertemuan IMF-World Bank Tak Sampai Rp500 Miliar

Sukuk berpotensi sebagai instrumen untuk memobilisasi dana, sementara wakaf memiliki kapasitas untuk mendapatkan income dan aktifitas keuangan yang produktif. “Karena itu, kolaborasi antara sukuk dan wakaf dapat menjadi inovasi dalam menyediakan pembiayaan berbiaya rendah untuk menjalankan keberlanjutan ekonomi,” Menkeu menambahkan.

Sementara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa perlu upaya untuk mengoptimalkan keuangan Islamic social finance untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif. Prinsip keuangan Islam sangat cocok dalam aktivitas SDGs dan inklusi keuangan, serta pengembangan usaha kecil dan menengah.

“Kami di BI bersama IDB, Baznas, telah membuat zakat core initiative pada bulan Mei 2016. Ini perlu regulasi yang terintegrasi. Inisiatifnya dikenalkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia,” ujar Gubernur BI.

Dalam High Level Discussion ini, tampil pula Wakil Presiden IDB, Mohammed Nouri Jouini yang menekankan pentingnya upaya pengembangan keuangan Islam secara global.

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini