nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penumpang Angkutan Udara Kembali Meningkat Bulan Depan

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 11 Februari 2019 11:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 11 320 2016247 penumpang-angkutan-udara-kembali-meningkat-bulan-depan-RIz8jSDp8m.jpg Bandara. Foto: Okezone

JAKARTA – Penurunan jumlah penumpang setiap tahun hampir terjadi pada setiap penerbangan di Indonesia karena kondisi low season. Angkutan penumpang udara diperkirakan akan kembali naik pada Maret mendatang. “Kami melihat penurunan jumlah penumpang angkutan udara itu sebuah siklus tahunan. Januari - Februari bisa saja turun, tapi pada Maret biasanya akan meningkat kembali terutama karena belanja APBN sudah mulai berjalan,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Polana B. Pramesti seusai melakukan kampanye keselamatan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Menurut Polana, penurunan jumlah penumpang terjadi saat ini tidak terkait dengan tarif tiket penerbangan karena tarif tiket yang berlaku saat ini berada dalam batas wajar. Artinya, pola tarif sesuai aturan atau berada di kisaran batas bawah serta batas atas. “Saya kira tidak ada yang melanggar selama sesuai dengan aturan tarif batas atas dan batas bawah berdasarkan PM 14 2016,” katanya. Pengamat penerbangan, Alvin Lie mengungkapkan, jumlah penumpang Januari 2018 dan Januari 2019 turun sekitar 10%. Namun, dia menampik anjloknya jumlah penumpang disebabkan pengaruh penerapan tarif bagasi berbayar.

Baca Juga: Jumlah Penumpang Pesawat Turun Gara-Gara Tiket Mahal?

“Kalau tarif bagasi berbayar, saya kira faktornya tidak terlalu besar d situ. Sebab kebijakan itu baru diterapkan dua pekan dan hanya dua maskapai saja, yakni Lion Air dan Wings Air. Saya kira memang lebih besar pengaruhnya di tarif tiket pesawat,” ucapnya. Meski begitu, Alvin optimistis kondisi itu merupakan hal normal dan lumrah terjadi. Masyarakat penumpang udara akan kembali terkondisikan dengan tarif tiket yang diterapkan maskapai. Hal lain menjadi penyebab turunnya penumpang per Januari ini juga disebabkan belum turunnya DIPA anggaran bagi pegawai negeri sipil dan aparatur negara. “Saya kira juga karena belanja APBN dan APBD belum sepenuhnya berjalan,” katanya.

Di sisi lain, daya beli masyarakat yang menurun juga diprediksi menjadi penyebab turunnya jumlah penumpang angkutan udara. “Jadi, daya beli kita itu memang menurun. Saya kira banyak yang menahan belanja karena ekonomi sedang lesu,” ujarnya. Sebelumnya, pengelola Bandar Udara PT Angkasa Pura II (Persero) memperkirakan pertumbuhan penumpang 2019 turun dikisaran 4% karena pengaruh konsolidasi maskapai yang belum agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Presiden Direktur PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan maskapai di Tanah Air.

pesawat

“Pertumbuhan penumpang tahun ini saya lihat maskapai sedang konsolidasi. Tapi, kami masih memantau terus, mudah-mudahan kondisi lalu lintas penumpang ini membaik,” kata Awaluddin. Sebagai informasi, realisasi lalu lintas penumpang di 16 bandara kelolaan AP II pada tahun lalu sebanyak 113 juta orang atau tumbuh sekitar 8% ketimbang tahun 2017. Sedangkan pertumbuhan lalu lintas pesawat sepanjang 2018 tercatat 5% dibandingkan tahun 2017.

Di sisi lain, Dirjen Perhubungan Udara Polana mengaku telah memfasilitasi keluhan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) soal tingginya tarif kargo yang diterapkan maskapai di Tanah Air. Polana mengatakan pemerintah tidak mengatur hal-hal berkaitan dengan tarif jasa kargo udara. “Kami sudah meluruskan ini kepada kalangan usaha Asperindo dan memfasilitasi mereka dengan badan usaha angkutan udara terkait. Bisnis penerbangan ini cepat dan dinamis, jadi banyak hal harus dijaga sehingga kita perlu menjaga suasana tetap kondusif,” ungkapnya.

Polana menambahkan, Asperindo bersama Badan Usaha Angkutan Udara (maskapai) telah sepakat membangun industri penerbangan berkelanjutan dalam meningkatkan daya saing global maupun regional. “Asperindo menganggap sudah tak ada lagi kesalahpahaman, sudah ada solusi dari masing-masing pihak,” ujarnya.

(Ichsan Amin)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini