Tambah Likuiditas, BI Turunkan GWM Perbankan Sebesar 50 Bps

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 21 November 2019 16:42 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 21 20 2132787 tambah-likuiditas-bi-turunkan-gwm-perbankan-sebesar-50-bps-WCKqN5h2QR.jpg Perry Warjiyo (Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan batas pencadangan kas perbankan denominasi Rupiah yang harus disetorkan ke BI atau Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 bps. Kebijakan ini mulai berlaku pada 2 Januari 2020 mendatang.

Dengan demikian bank umum konvensional wajib menempatkan GWM secara tetap (fix) sebesar 5,5% dan bank syariah/unit usaha syariah sebesar 4% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Sedangkan secara rata-rata (averaging) setiap dua minggu sebesar 3%.

 Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, Bos BI Bicara Sumber Ekonomi Baru

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, kebijakan tersebut ditempuh guna menambah ketersediaan likuiditas perbankan sehingga dapat meningkatkan penyaluran kredit dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

 Bank Indonesia

Menurutnya, dengan kebijakan pelonggaran GWM maka terjadi penambahan likuditas sebesar Rp26 triliun di perbankan. Angka tersebut terdiri dari peningkatan likuditas di bank umum sebesar Rp24,1 triliun dan bank syariah sebesar Rp1,9 triliun.

 Baca juga:Indonesia 'Diguyur' Aliran Modal Asing Rp217 Triliun

"Ini akan menambah likuditas di seluruh bank sehingga memuudahkan mereka menyalurkan kredit," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Perry mengatakan, pada dasarnya likuditas keseluruhan perbankan saat ini cukup, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang besar 19,43% pada September 2019. Di sisi lain, DPK juga tetap menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,47% yoy di akhir September 2019.

 Baca juga: Masih Dipercaya Investor, RI Dibanjiri Modal Asing Rp195,5 Triliun

Namun, distribusi likuiditas tersebut tidak menyebar secara merata antara bank BUKU I hingga BUKU IV. Sehingga bank BUKU I, II, dan III mengalami pengetatan likuiditas karena tak bisa bersaing dalam menarik DPK.

"Dalam persaingan ini sejumlah kelompok bank memang enggak bisa menarik porsi dari pertumbuhan DPK itu. Distribusi likuiditas menjadi tidak merata," kata dia.

Oleh sebab itu, dengan kebijakan penurunan GWM maka diyakini akan meningkatkan likuditas secara keseluruhan perbankan. Sehingga mendorong kemampuan perbankan untuk menyalurkan kredit guna mendorong perbaikan ekonomi.

"Di sisi lain, BI juga akan menggunakan strategi operasi moneter juga terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini