Apa Itu Value Investing? Yuk, Bongkar Rahasia Investasi ala Lo Kheng Hong

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 09:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 278 2293900 apa-itu-value-investing-yuk-bongkar-rahasia-investasi-ala-lo-kheng-hong-7NcaP1LTxp.jpg MNC Trade (Foto: MNC Media)

JAKARTA – Pernah dengar istilah value investing? Strategi value investing sudah sangat terkenal dan mendunia sejak diperkenalkan oleh investor terkenal di abad ke-20, yaitu Benjamin Graham. Tidak tanggung-tanggung, salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, juga telah menerapkan strategi investasi ini sejak lama. Di Indonesia, ada sosok Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai seorang value investor sukses Tanah Air.

Value investing merupakan metode untuk membeli saham di bawah harga wajarnya atau sering disebut dengan saham yang undervalue, untuk kemudian dijual di harga wajarnya. Menurut Direktur IT & Online Trading MNC Sekuritas Fifi Virgantria, value investing ini cocok untuk untuk investor yang punya tingkat kesabaran tinggi karena keuntungan maksimal justru diperoleh saat saham dijual beberapa tahun kemudian.

Baca Juga: Bagaimana Potensi Investasi Saham saat Resesi?

“Cara paling sederhana untuk memulai strategi value investing adalah mencari saham yang ‘salah harga’ berdasarkan laporan keuangannya. Teknik analisa yang biasa digunakan adalah analisa top-down, mulai dari kondisi fundamental perusahaan lalu mulai mengamati pergerakan saham dan daya beli masyarakat,” jelas Fifi, Kamis (15/10/2020).

Menurutnya, kondisi fundamental perusahaan dapat dianalisis dengan cara mengecek laporan keuangan dan melihat bagian pentingnya, seperti aset lancar dan tidak lancar, laba/ rugi serta laporan arus kas. Kemudian, calon value investor dapat mengambil kesimpulan, apakah emiten tersebut sehat secara finansial atau tidak.

Baca Juga: Investor Diminta Lakukan Hal Ini agar Tetap Cuan

Prinsip terpenting yang wajib dipegang seorang value investor adalah hanya membeli saham yang kinerjanya bagus dan dijual murah, artinya berada di bawah nilai intrinsiknya. Fifi mengingatkan, supaya investor tidak salah kaprah dengan definisi ‘murah’. Murah bukan melulu soal nominal harga saham, tetapi soal nilai valuasi saham yang diincar.

“Saham harga Rp100 per lembar bisa saja lebih ‘mahal’ valuasinya dibandingkan saham dengan harga Rp5.000 per lembar. Rasio keuangan seperti Price to Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) bisa menjadi parameter dalam mengukur valuasi harga suatu saham,” jelas Fifi.

 

Untuk kemudahan memperoleh informasi emiten, aplikasi online trading saham MNC Trade New dari MNC Sekuritas menyediakan informasi laporan keuangan setiap emiten dalam Menu Company Information. Bahkan rasio keuangan seperti EPS, PER, PBV, ROA, ROE yang menjadi dasar analisa kondisi keuangan suatu emiten sudah tersedia secara lengkap dalam bentuk perbandingan dari tahun ke tahun, sehingga investor tidak perlu repot-repot menghitung secara manual.

“Kami meyakini pengambilan keputusan value investor memerlukan data yang komprehensif. Dengan adanya data keuangan di aplikasi online trading yang sama, investor akan lebih nyaman dan praktis dalam melakukan aktivitas investasinya,” kata Fifi.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini