Bank Dunia Sebut Indonesia Peringkat ke-12 Sering Terkena Bencana

Rina Anggraeni, Jurnalis · Jum'at 22 Januari 2021 14:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 320 2349065 bank-dunia-sebut-indonesia-peringkat-ke-12-sering-terkena-bencana-jEDNezyPg1.jpg Indonesia Rawan Bencana. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Dunia menilai bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi. Indonesia berada di peringkat ke-12 dari 35 negara yang rawan bencana di dunia.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu mengatakan, seluruh wilayah di Indonesia terpapar risiko bencana. Dampak dari berbagai bencana ini tentunya sangat signifikan dan multidimensi, mulai dari merenggut korban jiwa hingga hingga merugikan pembangunan dan ekonomi masyarakat, termasuk yang miskin dan rentan.

Baca Juga: Indonesia Rawan Bencana, Dana Cadangan Telah Disiapkan

"Indonesia adalah negara dengan risiko bencana yang tinggi, sehingga memerlukan kesiapan (country readiness) yang komprehensif dan memadai dalam menghadapi

bencana, salah satunya dalam bentuk kesiapan pendanaan," kata Febrio Kacaribu dalam siaran pers dk Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Kata dia, pemerintah menerapkan strategi Pendanaan dan Asuransi Risiko Bencana atau Disaster Risk Financing and Insurance (DRFI). Salah instrumen utama Strategi DRFI pemerintahan adalah inovasi skema pendanaan kolaboratif Pooling Fund Bencana (PFB).

Baca Juga: Sistem Kelistrikan Kepulauan Talaud Dipastikan Aman Pasca-Gempa 7,1 M Guncang Sulut

PFB menyentuh mulai dari tahap prabencana, darurat bencana, hingga pascabencana. Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, Febrio Kacaribu mengatakan.

“Pemerintah Indonesia akan terus berinovasi dalam memitigasi risiko, menangani bencana, serta memulihkan pembangunan pasca bencana. Dengan adanya PFB, respons di bidang pendanaan ini diharapkan lebih tepat sasaran dan tepat waktu," katanya.

Untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam membangun PFB, Grup Bank Dunia telah menyepakati program Investment Project Financing with Performance-Based Conditions (IPF-PBCs) senilai USD500 juta. Program ini akan disertai hibah senilai USD14 juta dari Global Risk Financing Facility (GRIF), dimana USD10 juta dikelola oleh Kementerian Keuangan.

Program ini mengawal reformasi kebijakan dan akan digunakan untuk membangun kapasitas keuangan dan kelembagaan PFB serta perbaikan tata kelola pendanaan penanggulangan bencana

Tiga fokus utamanya adalah: lendirian dan operasionalisasi PFB, peningkatan kesiapsiagaan untuk respons terhadap bencana yang lebih efektif di seluruh instansi pemerintah dan pembangunan kapasitas dan sistem PFB untuk mendukung pendanaan penanggulangan bencana secara efektif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini